Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Dua kali perjalanan ke negara tetangga, dua kali punya teman seperjalan TKW dan dua kali juga saya tidak tahu pasti bagaimana kabar mereka berdua. Yang pertama, Mbak Iki… *baca tulisan saya sebelum ini*. Dan yang kedua, sebut saja Mbak Iku….
Dua tahun kerja di kilang *maksudnya, pabrik*. Habis kontrak kerjanya, Mbak Iku pulang ke Indonesia, tepatnya ke Lampung Utara. Pertama kalinya pulang kampung, dan sendirian!
Masih ada lagi, di Jakarta nanti tak ada keluarga yang menjemput karena kepulangannya dimajukan beberapa hari dari jadwal semula. Padahal Mbak Iku masih belum tahu bagaimana melanjutkan perjalannya ke Lampung Utara.
Ya Alloh… Saya mbayangin gimana kalau saya yang ada di posisi Mbak Iku…
Saya pun menemaninya di Bandara dan ternyata kita duduk bersebelahan dalam pesawat. Sambil menunggu, sempat ngobrol-ngobrol juga dengan penumpang lainnya. Ada 2 orang bapak, yang satu pulang ke Cianjur dan yang lainnya ke Serang.
“Kalau gitu pulangnya bareng saya saja. Biar saya antar sampai Merak. Dari sana baru saya ke Serang, paling-paling Cuma 1 jam-an”, kata si Bapak.
Alhamdulillah… sedikit tenang, karena Mbak Iku tidak benar-benar sendirian. Dan saya perhatikan kedua bapak itu juga nampaknya orang baik.
Saya dan 2 bapak tadi berencana meloloskan Mbak Iku keluar dari Bandara Soekarno Hatta melalui pintu penumpang umum! Bismillah…. Mudah-mudahan berhasil…
Lokasi: di Bandara Internasional Soekarno-hatta.
Cek imigrasi ok, cek bagasi ok. Satu koper buesar Mbak Iku dibawa oleh si Bapak, dan tas besar lainnya dibawakan Bapak yang lain. Mbak Iku hanya membawa tas tangan dan persis ada disebelah saya *ceritanya lagi menyamarkan*.
Hanya beberapa meter dari pintu keluar
“Coba lihat passportnya”.
Seseorang tidak berseragam, mengenakan kartu pengenal yang separuhnya tertutup jaket, menghentikan kita.
“Kamu, boleh keluar”, ditujukan ke saya.
“Kamu, ikut saya”, jari telunjuknya mengarah ke Mbak Iku.
Ya Alloh….
Singkat cerita, koper buesar sudah dibawa Mbak Iku, tapi tas besarnya ada di saya yang menunggu di luar.
“Wah, saya harus nunggu sampai jam berapa nih?”
“Memang kenapa Mbak?”
Sebut saja namanya Pak Eko, tadi sempat bertemu waktu check-in, rupanya beliau masih menunggu jemputan. Saya ceritakan semuanya….
Pak Eko masuk lagi kedalam bandara menanyakan keberadaan Mbak Iku. Ternyata Mbak Iku sudah digiring ke jalur khusus TKI dan mungkin sekarang sudah ada di terminal 3.
Wah, paniklah saya. Terminal 3? Dimana tuh? Tasnya Mbak Iku bagaimana? Saya pun tak tahu nomor HP nya. Beruntung, jemputan Pak Eko sudah datang. Beliau berbaik hati mau mengantarkan saya ke terminal 3.
Ternyata letaknya terpisah jauh dari terminal 1 dan 2. Dari Bandara, para TKI diangkut lagi dengan bus menuju tempat ini. Setelah menjelaskan maksud kedatangan di pos penjaga, sesorang mengantarkan kami. Hanya satu orang saja yang boleh masuk. Karena masih menginngat wajah Mbak Iku, jadilah saya yang masuk kedalam satu ruang besar seperti hall *atau lantai 1 nya GSG di ST3*. Ada ratusan TKW ada disana, dipisahkan berdasarkan tujuan mereka. Ada yang ke Surabaya dan berbagai daerah lainnya.
Sambil mencari-cari Mbak Iku, saya pun ngobrol dengan orang yang menemani itu.
“Pak, kenapa TKW pulangnya harus melalui terminal 3?”
“Karena dulu waktu mereka berangkat kan melalui Depnaker, jadi pulangnya juga begitu dong.”
“Kalau ada keluarga yang menjemput di Bandara gimana?”
“Yaa… ngga boleh. Ngga boleh dijemput keluarga. Tetap harus melalui terminal 3.”
“Oooo… *?*”
‘Trus, nanti mereka dipulangkan dengan travel? Yang udah nunggu didepan itu ya?”
“Bukan travel, tapi angkutan khusus.”
Mulut saya mengoceh, mata masih terus kelilingan mencari mbak Iku.
“Setiap hari selalu ramai seperti ini Pak?”
“Wah, bahkan bisa sampai ribuan Mbak?”
“Hah?? Kasihan dong mereka kalau tempatnya terlalu penuh.”
“Ya ngga juga. Secara berkala ada yang dipulangkan dengan angkutan khusus.”
Alhamdulillah…. Saya pun bertemu dengan Mbak Iku. Kami saling berpelukan, seperti layaknya teman lama. Sedikit tenang karena ada beberapa orang TKW yang juga pulang ke Lampung. Setelah bertukar alamat dan nomor telepon, kami pun berpisah lagi, dan berjanji untuk saling memberikan kabar begitu sampai rumah.
Hati-hati Mbak. Semoga selamat dalam perjalanan dan sampai tujuan…
Lagi-lagi Pak Eko berbaik hati mengantarkan saya kembali ke terminal 2 karena harus naik bus Damri.
2 hari setelah itu, saya coba telepon Mbak Iku, sampai beberapa kali, tapi yang terdengar selalu nada sibuk. Ah… semoga kau baik-baik saja Mbak…
Pucuk dicinta ulam tiba, Mbak Iku akhirnya menelpon saya keesokan harinya. Sayang, saat itu saya tak di rumah. Ada salam darinya. Ah… Alhamdulillah kau baik-baik saja.
**
Yang pertama,
Terima kasih untuk 2 orang bapak yang sudah berniat mengantarkan Mbak Iku sampai ke Merak. Terima kasih juga untu Pak Eko yang sudah berbaik hati mengantarkan saya ke terminal 3 dan balik lagi ke terminal 2, walaupun harus berputar-putar cukup jauh. Senang rasanya masih ada yang peduli dengan sesama, dengan para TKI.
Yang kedua,
Kenapa kami berniat meloloskan Mbak Iku melalui pintu keluar penumpang umum? Karena sudah ada yang bersedia mengantarkan sampai Pelabuhan Merak. Supaya bisa lebih cepat sampai dirumah, tidak tertahan dulu di terminal 3. Supaya tidak perlu membayar biaya administrasi di terminal 3 *kabarnya begitu*. Saya belum tahu, apakah ada peraturan tertulis, bahwa setiap TKW yang tiba di Bandara Cengkareng HARUS melalui terminal 3?
Yang ketiga,
Kenapa pintu keluar penumpang umum dan TKI harus dipisahkan? Kita sama-sama bayar tiket, bayar pajak bandara juga. Tapi kenapa TKI diperlakukan berbeda? Seolah-olah mereka dari kelas yang berbeda…
Yang keempat,
Apakah keberadaan terminal 3 cukup aman, efektif dan efisien?
Lebih baik mana jika dibandingkan TKI pulang dengan usaha mereka sendiri?
Pernahkan Depnaker melakukan survey tentang hal ini?
Yang kelima,
Mbak Iku pernah cerita, ada kawannya yang diminta tambahan ongkos ditengah perjalanan. Padahal sebeleumnya, besarnya ongkos sudah disepakati bersama. Pernah dengar juga berita tentang TKI yang dirampok ditengah jalan, bahkan sampai di bunuh. Tanggung jawab siapa kah semua ini?
Yang keenam,
Mimpi saya, tak ada lagi pintu keluar atau jalur khusus TKI. Mereka dan penumpang lainnya keluar dari pintu yang sama. Begitu diluar sudah dinanti sanak keluarga yang menjemput, atau bisa langsung ke bus Damri ke berbagai tujuan. Bukan di kerubungi calo-calo mobil yang langsung tarik tas orang, bahkan langsung ngeloyor membawa tas orang. Semoga…
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Thursday, March 09, 2006
Ada Apa Dengan Doneeh?
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Tiba-tiba saja shout box saya ga berfungsi. Tampilannya seperti ini nih…

Akhirnya cari shout box lain. Taraaaaa…. Jadilah shout box seperti disamping kanan. Cantik kan? Hehehe… muji sendiri. Dapat dari Oggix.
Mangga atuh, teteh-teteh, mbak-mbak, mas-mas, temen-temen sadayana, silahkan meninggalkan jejak pada kunjungan anda J
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Tiba-tiba saja shout box saya ga berfungsi. Tampilannya seperti ini nih…

Akhirnya cari shout box lain. Taraaaaa…. Jadilah shout box seperti disamping kanan. Cantik kan? Hehehe… muji sendiri. Dapat dari Oggix.
Mangga atuh, teteh-teteh, mbak-mbak, mas-mas, temen-temen sadayana, silahkan meninggalkan jejak pada kunjungan anda J
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Mbak Iki
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Sebut saja namanya Mbak Iki (bukan nama sebenarnya). Gadis hitam manis mengenakan tank top, berjalan *kelihatannya* penuh percaya diri sambil mendorong trolinya.
Mbak Iki dan saya sama-sama sedang mengantri untuk check-in. Sempat ngobrol sebentar, ternyata ini kali pertamanya pergi sendirian, biasanya selalu bareng teman. Check-in, bagasi, selanjutnya urusan fiskal.
“Mbak Iki bayar fiskal ngga?”
“Tak lah. Saye kan dah kerje di sane.”
“Kalau gitu, harus isi form permohonan bebas fiskal.”
Surat bebas fiskal saya sudah keluar. Mbak Iki mengurus formnya sendiri.
“Tak boleh. Mesti bayar lah”, sambil ngeloyor pergi ke loket pembayaran.
Saya masih terheran-heran.
“Kok bayar Mbak Iki? Kan udah kerja disana. Ada ID card sana ngga?”
“Tak ade.”
“Ooo……”, sambil mikir karena masih bingung. “Mbak, kalau udah kerja disana harusnya punya ID card. Nah setelah itu bisa urus bebas fiskal di KBRI sana”, saya menjelaskan dengan semangat.
“Iye ke?”
Kita ngobrol-ngobrol lagi sambil jalan ke pemeriksaan imigrasi. Antri di belakang mbak Iki, kenapa lama sekali? Akhirnya saya pun pindah ke antrian sebelah. Selesai lah urusan imigrasi.
Mbak Iki di hand over ke petugas yang lain. Samar-samar saya dengar
“Tolong lah Pak”, suara mbak Iki memelas.
Saya coba agak mendekat
“Macam mane ni Pak?”
“Tidak bisa. Harus ganti passport dulu. Dulu buatnya dimana?”
“Di Jawa.”
“Berarti gantinya disana juga.”
Kemudian mbak Iki diminta menemui petugas yang lain.
Ya Alloh, ternyata…
Mbak Iki memang seorang TKW… tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Kepergiannya kali ini dalam rangka berlibur, menemui kawannya yang masih disana, menggunakan passport TKI.
Sampai disini saya ngga tahu lagi bagaimana nasib Mbak Iki. Juga nasib tiket return-nya seharga 178 USD, nasib kopernya yang sudah masuk bagasi, nasib pajak bandara yang 100 ribu rupiah, juga nasib pembayaran fiskalnya sebesar 1 juta rupiah.
Harusnya Mbak Iki satu pesawat dengan saya. Tapi saya tidak melihatnya didalam pesawat, bahkan sampai akhirnya sampai ditujuan….
Ah…. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana kesudahan kejadian ini.
**
Yang pertama,
Malu bertanya sesat dijalan. Pepatah ini memang benar adanya. Kalau memang belum tahu, tidak ada salahnya bertanya, mencari informasi yang jelas. Terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan prosedur dan uang!
Yang kedua,
Ada passport biasa. Ada passport TKI. Ada passport haji. Tapi kenapa tidak ada passport pekerja kantoran? Tidak ada passport pelajar? Tidak ada passport plesiran? Bingung karena kebanyakan?
Ok, kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit? Cukup satu passport, PASSPORT INDONESIA. Masalah peruntukannya, terserah kepada setiap orang. Selama tidak melanggarhukum di Indonesia dan negara lain yang dituju, ngga masalah kan?!
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Note: Semoga engkau baik-baik saja Mbak
Sebut saja namanya Mbak Iki (bukan nama sebenarnya). Gadis hitam manis mengenakan tank top, berjalan *kelihatannya* penuh percaya diri sambil mendorong trolinya.
Mbak Iki dan saya sama-sama sedang mengantri untuk check-in. Sempat ngobrol sebentar, ternyata ini kali pertamanya pergi sendirian, biasanya selalu bareng teman. Check-in, bagasi, selanjutnya urusan fiskal.
“Mbak Iki bayar fiskal ngga?”
“Tak lah. Saye kan dah kerje di sane.”
“Kalau gitu, harus isi form permohonan bebas fiskal.”
Surat bebas fiskal saya sudah keluar. Mbak Iki mengurus formnya sendiri.
“Tak boleh. Mesti bayar lah”, sambil ngeloyor pergi ke loket pembayaran.
Saya masih terheran-heran.
“Kok bayar Mbak Iki? Kan udah kerja disana. Ada ID card sana ngga?”
“Tak ade.”
“Ooo……”, sambil mikir karena masih bingung. “Mbak, kalau udah kerja disana harusnya punya ID card. Nah setelah itu bisa urus bebas fiskal di KBRI sana”, saya menjelaskan dengan semangat.
“Iye ke?”
Kita ngobrol-ngobrol lagi sambil jalan ke pemeriksaan imigrasi. Antri di belakang mbak Iki, kenapa lama sekali? Akhirnya saya pun pindah ke antrian sebelah. Selesai lah urusan imigrasi.
Mbak Iki di hand over ke petugas yang lain. Samar-samar saya dengar
“Tolong lah Pak”, suara mbak Iki memelas.
Saya coba agak mendekat
“Macam mane ni Pak?”
“Tidak bisa. Harus ganti passport dulu. Dulu buatnya dimana?”
“Di Jawa.”
“Berarti gantinya disana juga.”
Kemudian mbak Iki diminta menemui petugas yang lain.
Ya Alloh, ternyata…
Mbak Iki memang seorang TKW… tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Kepergiannya kali ini dalam rangka berlibur, menemui kawannya yang masih disana, menggunakan passport TKI.
Sampai disini saya ngga tahu lagi bagaimana nasib Mbak Iki. Juga nasib tiket return-nya seharga 178 USD, nasib kopernya yang sudah masuk bagasi, nasib pajak bandara yang 100 ribu rupiah, juga nasib pembayaran fiskalnya sebesar 1 juta rupiah.
Harusnya Mbak Iki satu pesawat dengan saya. Tapi saya tidak melihatnya didalam pesawat, bahkan sampai akhirnya sampai ditujuan….
Ah…. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana kesudahan kejadian ini.
**
Yang pertama,
Malu bertanya sesat dijalan. Pepatah ini memang benar adanya. Kalau memang belum tahu, tidak ada salahnya bertanya, mencari informasi yang jelas. Terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan prosedur dan uang!
Yang kedua,
Ada passport biasa. Ada passport TKI. Ada passport haji. Tapi kenapa tidak ada passport pekerja kantoran? Tidak ada passport pelajar? Tidak ada passport plesiran? Bingung karena kebanyakan?
Ok, kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit? Cukup satu passport, PASSPORT INDONESIA. Masalah peruntukannya, terserah kepada setiap orang. Selama tidak melanggarhukum di Indonesia dan negara lain yang dituju, ngga masalah kan?!
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Note: Semoga engkau baik-baik saja Mbak
Saturday, March 04, 2006
Arghhhh....
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Membawa koper buesar, pakai jilbab, muka yg 100% Indonesia plus menggunakan penerbangan dari Arab. Kita-kira apa yang ada dalam pikiran Anda? Hmm mungkin jawabannya beragam. Tapi kalau saya nanya nya ke petugas yang ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kemungkinan besar jawabannya hanya satu TKW!
Percakapan (?)
“Lewat sini mbak!” seorang petugas berseragam mengarahkan saya ke tempat yang bertuliskan “JALUR KHUSUS TKI”.
"Saya bukan TKI Pak!” sambil berbelok ke arah pintu keluar untuk penumpang umum.
Rupanya petugas tadi masih belum puas dan mendekati saya lagi.
“Pelajar ya mbak?” tanya nya lagi. Mungkin karena melihat saya yang jelas-jelas sedang menenteng tas laptop.
“Iya Pak”, jawab saya sekenanya.
“Coba lihat passportnya.”
“Saya bukan TKW Pak.”
“Iya, coba lihat passportnya!”, suaranya mulai agak tinggi.
“Saya bukan TKW Pak! Saya tinggal di Singapura. Saya permanent Resident di Singapura”, dengan suara yang sama tingginya dengan petugas. Ga tau deh dia ngerti maksudnya atau nggak.
“Iya, lihat passportnya. Soalnya banyak TKW yang bilangnya begitu. Ada masalah diluar negeri, larinya ke Indonesia!”
“Ya terserah, yang jelas bukan saya. Saya bukan TKW!
Capek adu suara, akhirnya saya keluarkan juga passport saya. Si petugas membolak-balik halaman demi halaman, sepertinya sedang berusaha keras mencari bukti kalau saya benar TKW.
“Ya udah”, sambil terus ngeloyor pergi meninggalkan saya yang terbengong-bengong keheranan.
Udah? Begitu aja? Tanpa permintaan maaf karena sudah menuduh orang sembarangan dan memperlakukan orang dengan tidak sopan!
Arghhhh…. Dzig 100x…. Rasanya pengen banget mukulin bolak-balik si petugas sampai jatuh terkapar. Begitu dia siuman, langsung sadar kalau perbuatannya salah *brutal.com*.
**
Yang pertama,
sebenarnya saya sih ga masalah disangka TKW, disangka buruh pabrik, disangka pembantu atau apalah.Tapi yang nyebelin kalau prasangka itu mempengaruhi perlakuan mereka terhadap kita. Padahal di sisi kanan imigrasi check point tertulis besar-besar “SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA”. Masa’ sih begini cara memperlakukan pahlawanmu?
Yang kedua,
saya sudah lolos di pengecekan bagasi dan imigrasi. Untuk urusan apalagi petugas itu memeriksa passport saya? Hanya beberapa meter menuju pintu keluar. Selain itu, passport itu punya saya kan, kalau mau meminjam atau sekedar melihat milik orang lain, mbok ya minta izin nya yang sopan.
Yang ketiga,
waktu itu, saya mamakai kaos oblong plus rok. Gaya favorit saya kalau sedang diperjalanan, biar lebih nyaman dan simple. Mungkin juga gaya yang sama dengan para TKW. Lain kali, mungkin saya coba berpakaian sedikit lebih rapi dan kita lihat bagaimana hasilnya? *Arghhh… sebenernya lebih tepat kalau petugas itu yang merubah sikapnya, bukan saya yang harus sedikit merubah penampilan*
Yang keempat,
kalau ada petugas yang mengarahkan ke jalur khusu TKI, ga perlu emosi. Adu suara cuma buang tenaga dan bikin BT. Cukup dijawab:
“Saya bukan TKI Pak.
Bapak mau periksa passport saya?
Silahkan…”
Yang kelima,
saya kok masih mangkel dengan kata-kata petugas tadi
“Soalnya banyak TKW yang bilangnyabegitu *maksudnya, ga ngaku kalau jadi TKW*. Ada maslah diluar negeri, larinya ke Indonesia.”
Aneh bin ajaib…
TKI atau TKW masih berstatus WNI, Warga Negara Indonesia. Jadi sangat wajar kalau mereka pulang atau lari *menurut saya lebih tepatnya berlindung* ke kampung sendiri. Masa’ mau kabur ke kampung orang lain? Yang ini sih biasanya kelakuannya koruptor.
Kalau tidak salah, gaji para TKW juga dipotong pajak *makanya disebut pahlawan devisa*. Jadi hal yang wajar juga jika pemerintah Indonesia memberikan fungsi pendampingan dan perlindungan kepada mereka, baik disaat senang atau terganjal masalah. Hubungan saling memberi dan menerima gitu loh…
Yang keenam,
Bandara INTERNASIONAL Soekarno-Hatta. Tapi kenapa pelayanannya tidak mencerminkan skala internasional-nya. Setidaknya kalau saya bandingkan dari Bandara internasional di tetangga sebelah. Jauuuh berbeda.
Yang terakhir,
Saya masih bingung, menyebut bapak tadi dengan oknum petugas atau cukup petugas berseragam sajah. Ah… mudah-mudahan hanya oknum.
Note:
Judul tulisan ini sebenarnya “Kalau TKW (look like) ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta”
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Membawa koper buesar, pakai jilbab, muka yg 100% Indonesia plus menggunakan penerbangan dari Arab. Kita-kira apa yang ada dalam pikiran Anda? Hmm mungkin jawabannya beragam. Tapi kalau saya nanya nya ke petugas yang ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kemungkinan besar jawabannya hanya satu TKW!
Percakapan (?)
“Lewat sini mbak!” seorang petugas berseragam mengarahkan saya ke tempat yang bertuliskan “JALUR KHUSUS TKI”.
"Saya bukan TKI Pak!” sambil berbelok ke arah pintu keluar untuk penumpang umum.
Rupanya petugas tadi masih belum puas dan mendekati saya lagi.
“Pelajar ya mbak?” tanya nya lagi. Mungkin karena melihat saya yang jelas-jelas sedang menenteng tas laptop.
“Iya Pak”, jawab saya sekenanya.
“Coba lihat passportnya.”
“Saya bukan TKW Pak.”
“Iya, coba lihat passportnya!”, suaranya mulai agak tinggi.
“Saya bukan TKW Pak! Saya tinggal di Singapura. Saya permanent Resident di Singapura”, dengan suara yang sama tingginya dengan petugas. Ga tau deh dia ngerti maksudnya atau nggak.
“Iya, lihat passportnya. Soalnya banyak TKW yang bilangnya begitu. Ada masalah diluar negeri, larinya ke Indonesia!”
“Ya terserah, yang jelas bukan saya. Saya bukan TKW!
Capek adu suara, akhirnya saya keluarkan juga passport saya. Si petugas membolak-balik halaman demi halaman, sepertinya sedang berusaha keras mencari bukti kalau saya benar TKW.
“Ya udah”, sambil terus ngeloyor pergi meninggalkan saya yang terbengong-bengong keheranan.
Udah? Begitu aja? Tanpa permintaan maaf karena sudah menuduh orang sembarangan dan memperlakukan orang dengan tidak sopan!
Arghhhh…. Dzig 100x…. Rasanya pengen banget mukulin bolak-balik si petugas sampai jatuh terkapar. Begitu dia siuman, langsung sadar kalau perbuatannya salah *brutal.com*.
**
Yang pertama,
sebenarnya saya sih ga masalah disangka TKW, disangka buruh pabrik, disangka pembantu atau apalah.Tapi yang nyebelin kalau prasangka itu mempengaruhi perlakuan mereka terhadap kita. Padahal di sisi kanan imigrasi check point tertulis besar-besar “SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA”. Masa’ sih begini cara memperlakukan pahlawanmu?
Yang kedua,
saya sudah lolos di pengecekan bagasi dan imigrasi. Untuk urusan apalagi petugas itu memeriksa passport saya? Hanya beberapa meter menuju pintu keluar. Selain itu, passport itu punya saya kan, kalau mau meminjam atau sekedar melihat milik orang lain, mbok ya minta izin nya yang sopan.
Yang ketiga,
waktu itu, saya mamakai kaos oblong plus rok. Gaya favorit saya kalau sedang diperjalanan, biar lebih nyaman dan simple. Mungkin juga gaya yang sama dengan para TKW. Lain kali, mungkin saya coba berpakaian sedikit lebih rapi dan kita lihat bagaimana hasilnya? *Arghhh… sebenernya lebih tepat kalau petugas itu yang merubah sikapnya, bukan saya yang harus sedikit merubah penampilan*
Yang keempat,
kalau ada petugas yang mengarahkan ke jalur khusu TKI, ga perlu emosi. Adu suara cuma buang tenaga dan bikin BT. Cukup dijawab:
“Saya bukan TKI Pak.
Bapak mau periksa passport saya?
Silahkan…”
Yang kelima,
saya kok masih mangkel dengan kata-kata petugas tadi
“Soalnya banyak TKW yang bilangnyabegitu *maksudnya, ga ngaku kalau jadi TKW*. Ada maslah diluar negeri, larinya ke Indonesia.”
Aneh bin ajaib…
TKI atau TKW masih berstatus WNI, Warga Negara Indonesia. Jadi sangat wajar kalau mereka pulang atau lari *menurut saya lebih tepatnya berlindung* ke kampung sendiri. Masa’ mau kabur ke kampung orang lain? Yang ini sih biasanya kelakuannya koruptor.
Kalau tidak salah, gaji para TKW juga dipotong pajak *makanya disebut pahlawan devisa*. Jadi hal yang wajar juga jika pemerintah Indonesia memberikan fungsi pendampingan dan perlindungan kepada mereka, baik disaat senang atau terganjal masalah. Hubungan saling memberi dan menerima gitu loh…
Yang keenam,
Bandara INTERNASIONAL Soekarno-Hatta. Tapi kenapa pelayanannya tidak mencerminkan skala internasional-nya. Setidaknya kalau saya bandingkan dari Bandara internasional di tetangga sebelah. Jauuuh berbeda.
Yang terakhir,
Saya masih bingung, menyebut bapak tadi dengan oknum petugas atau cukup petugas berseragam sajah. Ah… mudah-mudahan hanya oknum.
Note:
Judul tulisan ini sebenarnya “Kalau TKW (look like) ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta”
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Monday, February 20, 2006
Bubur Ayam Kuah Soto
Assalamu'alaikum Wr.Wb.Lagi-lagi ini masakan waktu masih di Singapur. Kalau sekarang sih, pengen sarapan bubur tinggal panggil abang yang lewat depan rumah setiap pagi :D Untuk buburnya, aku mbuat 1/2 resep bisa untuk 4 porsi.
Bahan bubur:
200 gr beras
2 liter air
2 lembar daun pandan
2 lembar daun salam
1 sdt garam
Kuah:
1 dada ayam atau fillet
1 batang daun bawang
2 batang daun seledri
1 liter air
1 batang sereh
3 lembar daun jeruk
2 cm jahe, keprek
3 sdm minyak goreng, untuk menumis
Haluskan:
8 siung bawang merah
5 siung bawang putih
3 cm kunyit, bakar
5 buah kemiri, sangrai
1 sdm garam
1 sdt merica
Pelengkap:
100 gr kacang kedelai, goreng
5 buah cakwe goreng, iris
irisan daun bawang, seledri, bawang goreng
kecap manis
kerupuk
sambal
Cara membuat:
Bubur
Masak beras bersama air, daun pandan, salam dan garam. Aduk sesekali. Masak hingga kental, angkat dan tiriskan.
Kuah
1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum.
2. Tambahkan air secukupnya dan masukkan ayam.
3. Masukkan sisa bahan kuah. Masak hingga ayam empuk. Matikan api.
4. Angkat ayam, suwir-suwir.
5. Sajikan bubur dengan semua bahan pelengkap dan suwiran ayam.
Sumber : Dapur Bunda
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Wednesday, February 15, 2006
The Inspiring Women
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Hidup jauh dari kampung halaman, makanan yang tak cucok dilidah, tetangga kanan-kiri yang tak saling kenal *hanya sebatas senyum dan say hi*. Awalnya memang agak membosankan. Alhamdulillah tak berlangsung lama…
Transportasi umum yang nyaman, bersih, serba teratur dan keadaan sekitar yang relatif aman. Semua itu menjadi lengkap setelah saya menemukan keluarga baru. Ya… teman-teman yang juga berasal dari Indo.
Ada Teteh yang punya blog begitu menggoda. Gimana enggak? Isinya makanan melulu, dari tiramisu sampai singkong goreng ada disitu, slrupp :p Teteh yang lain, tetep semangat ngoprek didapur sepulang kerja. Kalau buka warung makan Sunda kaya’nya ok deh Teh ;) Bahkan ada mamee yang udah punya bisnis cateringnya sendiri, kerenn..
Selain itu, ada mbak yang senengnya ngarang. Begitu mengalir dan enak dibaca. Tapi sayangnya, mbak ini ga mau menanggung efek samping setelah membaca karangannya :) Ternyata oh ternyata… ada juga lho mbak yang sudah jadi penulis cerpen professional, udah ada buku nya bo.
Menikah, punya anak dan kesibukan dirumah ternyata tidak lantas membuat orang malas cari ilmu. Banyak teman-teman yang tetep rajin wara-wiri ikut pengajian walaupun sudah ada 1 atau 2 anak, bahkan ada juga yang sudah ada 3, 4 dan 5 anak, subhanalloh….
Ada lagi mbak yang senang meng-koleksi flash card dan berbagai educatif games. Bermanfaat banget buat para krucil. Anak tenang, para ibu pun jadi tenang :)
Teman yang lain, hobi banget ngutak-ngatik blog setting. Perhatiin deh, adaaa aja yang berubah dari blognya, tentu saja selain postingannya. Biasanya, kesanalah aku tanya-tanya tentang per-blog-an. Waktu pindahan kemarin, teman ini juga bersedia menjadi tempat lungsuran pretilan rumah tangga.
Sebenarnya masih banyak lagi teman-teman yang lain dan tidak bisa aku ceritakan satu per satu. Yang jelas ada benang merah yang bisa aku tangkap, bahwa menjadi istri tidak sekedar menjaga rumah *plus segala tugas-tugas didalamnya* kemudian menunggu suami pulang kerja. Tidak, tidak sesempit itu.
Tetapi juga ada semangat didalamnya, semangat untuk terus belajar dan meng-upgrade diri sendiri bahkan keluarga kecilnya. Ya, semangat itulah yang akan terus aku bawa. Semangat untuk masuk dapur, semangat untuk belajar masak, semangat nge-blog… wah pokoknya banyak deh.
Terima kasih teman-teman and please keep the spirit.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
*tulisan ini dibuat waktu jetlag Singapur masih terasa*
Hidup jauh dari kampung halaman, makanan yang tak cucok dilidah, tetangga kanan-kiri yang tak saling kenal *hanya sebatas senyum dan say hi*. Awalnya memang agak membosankan. Alhamdulillah tak berlangsung lama…
Transportasi umum yang nyaman, bersih, serba teratur dan keadaan sekitar yang relatif aman. Semua itu menjadi lengkap setelah saya menemukan keluarga baru. Ya… teman-teman yang juga berasal dari Indo.
Ada Teteh yang punya blog begitu menggoda. Gimana enggak? Isinya makanan melulu, dari tiramisu sampai singkong goreng ada disitu, slrupp :p Teteh yang lain, tetep semangat ngoprek didapur sepulang kerja. Kalau buka warung makan Sunda kaya’nya ok deh Teh ;) Bahkan ada mamee yang udah punya bisnis cateringnya sendiri, kerenn..
Selain itu, ada mbak yang senengnya ngarang. Begitu mengalir dan enak dibaca. Tapi sayangnya, mbak ini ga mau menanggung efek samping setelah membaca karangannya :) Ternyata oh ternyata… ada juga lho mbak yang sudah jadi penulis cerpen professional, udah ada buku nya bo.
Menikah, punya anak dan kesibukan dirumah ternyata tidak lantas membuat orang malas cari ilmu. Banyak teman-teman yang tetep rajin wara-wiri ikut pengajian walaupun sudah ada 1 atau 2 anak, bahkan ada juga yang sudah ada 3, 4 dan 5 anak, subhanalloh….
Ada lagi mbak yang senang meng-koleksi flash card dan berbagai educatif games. Bermanfaat banget buat para krucil. Anak tenang, para ibu pun jadi tenang :)
Teman yang lain, hobi banget ngutak-ngatik blog setting. Perhatiin deh, adaaa aja yang berubah dari blognya, tentu saja selain postingannya. Biasanya, kesanalah aku tanya-tanya tentang per-blog-an. Waktu pindahan kemarin, teman ini juga bersedia menjadi tempat lungsuran pretilan rumah tangga.
Sebenarnya masih banyak lagi teman-teman yang lain dan tidak bisa aku ceritakan satu per satu. Yang jelas ada benang merah yang bisa aku tangkap, bahwa menjadi istri tidak sekedar menjaga rumah *plus segala tugas-tugas didalamnya* kemudian menunggu suami pulang kerja. Tidak, tidak sesempit itu.
Tetapi juga ada semangat didalamnya, semangat untuk terus belajar dan meng-upgrade diri sendiri bahkan keluarga kecilnya. Ya, semangat itulah yang akan terus aku bawa. Semangat untuk masuk dapur, semangat untuk belajar masak, semangat nge-blog… wah pokoknya banyak deh.
Terima kasih teman-teman and please keep the spirit.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
*tulisan ini dibuat waktu jetlag Singapur masih terasa*
Tuesday, February 14, 2006
Ayam Sobek

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Dengan sedikit modifikasi :) Enak dan praktis. “Besok masak ini lagi yah”, pesen mas Tham setelah makan ayam sobek ini.
Bahan:
6 buah dada ayam atau fillet
2 siung bawang putih, keprek
1cm jahe, keprek
serbuk lada
sedikit biji pala, keprek
Bumbu halus:
15 buah cabe merah
10 buah bawang merah
2 cm jahe
1 buah tomat sedang
garam
gula
Cara membuat:
1. Rebus ayam dengan dengan semua sisa bahan. Masak hingga daging ayam empuk, angkat dan tiriskan.
2. Sobek-sobek daging ayam, jangan terlalu tipis/kecil.
3. Tumis bumbu halus hingga harum dan matang. Jangan lupa beri garam dan gula.
4. Masukkan sobekan ayam, aduk rata.
Sumber: Dapur Keluarga Cemara
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Saturday, February 04, 2006
Terima Kasih
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Susah payah aku tahan, akhirnya butiran hangat itu luruh juga. Sepuluh bulan ternyata mampu membuat seorang yang asing menjadi seperti keluarga.
Terima kasih teman-teman, telah menjadikan sebuah pulau mungil menjadi berwarna dan bermakna bagi ku...
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
*Catatan dalam bus 189, dari Bukit Batok menuju Clementi*
Susah payah aku tahan, akhirnya butiran hangat itu luruh juga. Sepuluh bulan ternyata mampu membuat seorang yang asing menjadi seperti keluarga.
Terima kasih teman-teman, telah menjadikan sebuah pulau mungil menjadi berwarna dan bermakna bagi ku...
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
*Catatan dalam bus 189, dari Bukit Batok menuju Clementi*
Sunday, January 29, 2006
Nasi Aking
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Nasi aking??? Waktu pertama kali dengar aku sempet mengernyitkan dahi, "Apaan tuh?". Dari tayangan berita SCTV, ternyata nasi aking adalah nasi yang dihasilkan dari nasi sisa.
Proses pengolahannya, nasi sisa dijemur semalaman hingga kering. Begitu akan dimasak, nasi kering ini dicuci dan direndam kurang lebih selama 1 jam. Setelah itu siap dimasak seperti biasa. Kalau ada, bisa dicampur dengan kelapa. Kalau tak ada, dengan garam pun tak mengapa.
Sebenarnya nasi sisa ini biasa digunakan untuk pakan ternak bebek. Tapi, percayakah anda, ternyata ada orang yang makan nasi aking. Nasi yang sebenarnya hanya layak dikonsumsi ternak!
Didaerah Serang, Banten, ada 1 keluarga yang makan nasi aking setahun belakangan ini. Kenapa? Agar tidak kelaparan dan kemiskinan.
Sang bapak *rata-rata* berpenghasilan hanya 5 ribu rupiah per hari, tak jarang malah tak dapat hasil sama sekali. Dengan seorang istri dan 8 orang anak, butuh 2 liter beras setiap harinya. Jelas tak cukup untuk membeli beras yang harganya terus meroket *kira-kira Rp.4000 per liter*, bahkan untuk beras kualitas jelek sekalipun.
Nasi aking hanya seharga seribu rupiah per liter. Terkadang si ibu mengumpulkan langsung nasi-nasi sisa dari tetangga. Jika ada uang lebih, bisa untuk membeli tahu, tempe atau oncom untuk teman makan. Jika tak ada, cukup dengan garam.
Kadang mereka merasa mual-mual setelah makan nasi aking. Pemerintah setempat pun sudah melarang keluarga ini makan nasi aking. Tapi pelarangan tanpa bantuan nyata, apa gunanya?
Ah... jadi teringat berapa butir nasi yang pernah aku buang percuma. Karena makan yang tidak dihabiskan, masak berlebih sehingga basi dan masuk ke tempat sampah. Sebutir... dua butir... tiga butir... Ah... banyak ternyata!
Ya Alloh... Ampuni hamba-Mu yang kurang bersyukur ini. Membuang rejeki yang tlah Kau berikan. Padahal ada hamba-Mu yang lain, harus bersusah payah mencari rejeki agar tidak kelaparan, agar tetap bertahan hidup.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Nasi aking??? Waktu pertama kali dengar aku sempet mengernyitkan dahi, "Apaan tuh?". Dari tayangan berita SCTV, ternyata nasi aking adalah nasi yang dihasilkan dari nasi sisa.
Proses pengolahannya, nasi sisa dijemur semalaman hingga kering. Begitu akan dimasak, nasi kering ini dicuci dan direndam kurang lebih selama 1 jam. Setelah itu siap dimasak seperti biasa. Kalau ada, bisa dicampur dengan kelapa. Kalau tak ada, dengan garam pun tak mengapa.
Sebenarnya nasi sisa ini biasa digunakan untuk pakan ternak bebek. Tapi, percayakah anda, ternyata ada orang yang makan nasi aking. Nasi yang sebenarnya hanya layak dikonsumsi ternak!
Didaerah Serang, Banten, ada 1 keluarga yang makan nasi aking setahun belakangan ini. Kenapa? Agar tidak kelaparan dan kemiskinan.
Sang bapak *rata-rata* berpenghasilan hanya 5 ribu rupiah per hari, tak jarang malah tak dapat hasil sama sekali. Dengan seorang istri dan 8 orang anak, butuh 2 liter beras setiap harinya. Jelas tak cukup untuk membeli beras yang harganya terus meroket *kira-kira Rp.4000 per liter*, bahkan untuk beras kualitas jelek sekalipun.
Nasi aking hanya seharga seribu rupiah per liter. Terkadang si ibu mengumpulkan langsung nasi-nasi sisa dari tetangga. Jika ada uang lebih, bisa untuk membeli tahu, tempe atau oncom untuk teman makan. Jika tak ada, cukup dengan garam.
Kadang mereka merasa mual-mual setelah makan nasi aking. Pemerintah setempat pun sudah melarang keluarga ini makan nasi aking. Tapi pelarangan tanpa bantuan nyata, apa gunanya?
Ah... jadi teringat berapa butir nasi yang pernah aku buang percuma. Karena makan yang tidak dihabiskan, masak berlebih sehingga basi dan masuk ke tempat sampah. Sebutir... dua butir... tiga butir... Ah... banyak ternyata!
Ya Alloh... Ampuni hamba-Mu yang kurang bersyukur ini. Membuang rejeki yang tlah Kau berikan. Padahal ada hamba-Mu yang lain, harus bersusah payah mencari rejeki agar tidak kelaparan, agar tetap bertahan hidup.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Pindang Ikan Bandeng
Bikin bandeng berkuah. Biasanya kalau dibiarkan sampai besok *tentu saja harus dihangatkan* rasanya jadi lebih enak. Kuahnya tambah sedep dan meresap ke dalam ikan nya :P
Bahan:
2 ekor ikan bandeng, potong 2 atau 3 *sesuai selera*
2-4 buah cabe rawit
kecap manis
sedikit asam jawa
Bumbu:
2 buah cabe merah
3 siung bawang merah
sedikit kunyit
sedikit jahe
Semua bumbu dibakar hingga wangi, tumbuk kasar
Cara membuat:
1. Panaskan air secukupnya.
2. Masukkan bumbu dan asam jawa. Masak hingga mendidih.
3. Tambahkan kecap, aduk rata.
4. Masukkan ikan, masak hingga ikan matang *ikan dimasukkan setelah air mendidih supaya tidak hancur*.
5. Terakhir, masukkan cabe rawit. Kalau suka pedas, tinggal gerus saja cabe rawitnya.
6. Sajikan hangat.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Monday, January 23, 2006
Siloso Beach
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Hari sabtu lalu pergi ke Siloso Beach, kopdar pertama ku bareng ISM. Sueneng... biasanya cuma baca email-emailnya aja, akhirnya bisa ketemuan dengan banyak teman, ketemu banyak makanan, plus banyak anak-anak yang imut dan lucu-lucu.
Ini juga kali pertama aku ke pantai ini *padahal udah 10 bulan tinggal di Singapur*. Mas Tham cuma jawab "Ntar" kalau aku ajak. Pantainya sih biasa aja *dengan tebaran pasir putih impor dari Indonesia*, tapi bersihhhh banget. Ditambah dengan pemandangan gadis-gadis yang bersliweran hanya menggunakan bikini. Duh... jadi risih sendiri.
Sementara para ibu sibuk mengobrol dan mengunyah *hmmm yummy... banyak makanan enak*, ternyata ada yang sibuk sendiri. Beberapa bapak sibuk menemani anak-anak bermain *atau sebaliknya?:)*. Termasuk mas Tham :)

Sempet sedikit kalang kabut waktu gerimis datang. Menyelamatkan makanan ke dalam tenda dan mencari tempat berteduh. Untunglah ga berapa lama, langit cerah lagi. Yippi... langsung pada berhamburan. Sayang, aku lupa foto-foto waktu disana, hanya sempat beberapa. Mampir ke tempat mbak Hany aja untuk lihat foto-foto lainnya.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Hari sabtu lalu pergi ke Siloso Beach, kopdar pertama ku bareng ISM. Sueneng... biasanya cuma baca email-emailnya aja, akhirnya bisa ketemuan dengan banyak teman, ketemu banyak makanan, plus banyak anak-anak yang imut dan lucu-lucu.
Ini juga kali pertama aku ke pantai ini *padahal udah 10 bulan tinggal di Singapur*. Mas Tham cuma jawab "Ntar" kalau aku ajak. Pantainya sih biasa aja *dengan tebaran pasir putih impor dari Indonesia*, tapi bersihhhh banget. Ditambah dengan pemandangan gadis-gadis yang bersliweran hanya menggunakan bikini. Duh... jadi risih sendiri.
Sementara para ibu sibuk mengobrol dan mengunyah *hmmm yummy... banyak makanan enak*, ternyata ada yang sibuk sendiri. Beberapa bapak sibuk menemani anak-anak bermain *atau sebaliknya?:)*. Termasuk mas Tham :)
Sempet sedikit kalang kabut waktu gerimis datang. Menyelamatkan makanan ke dalam tenda dan mencari tempat berteduh. Untunglah ga berapa lama, langit cerah lagi. Yippi... langsung pada berhamburan. Sayang, aku lupa foto-foto waktu disana, hanya sempat beberapa. Mampir ke tempat mbak Hany aja untuk lihat foto-foto lainnya.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Friday, January 20, 2006
Stop Penyiksaan terhadap Anak!
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Di Banten seorang ibu tega membakar 2 orang anaknya, umur 11 bulan dan 2 tahun. Si kakak akhirnya meninggal akibat luka bakar yang parah.
Di Manado, seorang balita cantik menderita lebam-lebam karena dianiaya bapak tiri nya plus beberapa luka bekas sundutan rokok di kakinya.
Ditambah dengan Tia, bocah berusia 8 tahun, yang bagian kakinya disetrika oleh bapaknya.
Dewi, 7 tahun, harus menginap dirumah sakit setelah si bibi menyiram kakinya dengan air panas, ditambah lagi dengan menyiram kemaluannya dengan air cabai. Selama ini memang Dewi diasuh paman dan bibinya.
Menurut data dari Komnas Perlindungan Anak, selama tahun 2005 ada 604 kasus penyiksaan terhadap anak *ini yang dilaporkan lho, mungkin masih banyak kasus serupa diluar sana yang luput dari pantauan*.
***
Semua saya dapat dari berita di SCTV. Ah... miris aku ndengarnya...
Misalkan, kalau kita dititipi buku oleh sorang teman. Masa' sih kita mau robek-robek atau ngerusak buku itu. Kemungkinan besar kita malah berusaha menjaga buku itu dengan baik. Nah, begitu juga dengan anak, terlebih lagi kalau Alloh yang langsung menitipkannya.
Ah...
Disaat para pasutri berharap, berdoa dan berusaha untuk bisa punya anak, ternyata ada juga orang tua yang tega menyiksa anaknya.
Jadi...
Stop penyiksaan terhadap anak!
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Di Banten seorang ibu tega membakar 2 orang anaknya, umur 11 bulan dan 2 tahun. Si kakak akhirnya meninggal akibat luka bakar yang parah.
Di Manado, seorang balita cantik menderita lebam-lebam karena dianiaya bapak tiri nya plus beberapa luka bekas sundutan rokok di kakinya.
Ditambah dengan Tia, bocah berusia 8 tahun, yang bagian kakinya disetrika oleh bapaknya.
Dewi, 7 tahun, harus menginap dirumah sakit setelah si bibi menyiram kakinya dengan air panas, ditambah lagi dengan menyiram kemaluannya dengan air cabai. Selama ini memang Dewi diasuh paman dan bibinya.
Menurut data dari Komnas Perlindungan Anak, selama tahun 2005 ada 604 kasus penyiksaan terhadap anak *ini yang dilaporkan lho, mungkin masih banyak kasus serupa diluar sana yang luput dari pantauan*.
***
Semua saya dapat dari berita di SCTV. Ah... miris aku ndengarnya...
Misalkan, kalau kita dititipi buku oleh sorang teman. Masa' sih kita mau robek-robek atau ngerusak buku itu. Kemungkinan besar kita malah berusaha menjaga buku itu dengan baik. Nah, begitu juga dengan anak, terlebih lagi kalau Alloh yang langsung menitipkannya.
Ah...
Disaat para pasutri berharap, berdoa dan berusaha untuk bisa punya anak, ternyata ada juga orang tua yang tega menyiksa anaknya.
Jadi...
Stop penyiksaan terhadap anak!
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Thursday, January 19, 2006
Sayur Daun Singkong
Pucuk ubi, begitu biasanya orang Melayu menyebut daun ini *pucuk=daun, ubi=singkong*. Alhamdulillah masih bisa ketemu di "Nabela Store", satu-satunya stall melayu yang ada di pasar seberang Ginza Plaza. Biasanya adanya hari sabtu.
Bahan:
1 ikat daun singkong, siangi, cuci bersih
ikan teri, cuci, tiriskan, goreng
santan
sedikit daun kunyit
garam
Bumbu halus:
6 siung bawang merah
3 siung bawang putih
3 buah cabe merah
sedikit jahe
sedikit kunyit
lengkuas
Cara membuat:
1. Rebus daun singkong sampai empuk. Angkat, cuci dan tiriskan. Sisihkan. *ngerebus daun singkong ini lumayan lama, kecuali kalau pakai panci presto*.
2. Tumis bumbu halus hingga harum.
3. Tambahkan air santan dan daun kunyit.
4. Masukkan daun singkong dan ikan teri. Masak hingga mendidih. Aduk sesekali. Jangan lupa garamnya.
5. Sajikan hangat.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Sambal Ijo
Lebih sedap klo pake ikan asin jambal. Disini ada ga ya? Nama nya apa? Sama kah dengan ikan kerapu? Hehehee pertanyaannya langsung diborong begini :)
Bahan:
10 buah cabe ijo
4 siung bawang merah
2 siung bawang putih
1/2 buah tomat ijo
sedikit garam
Cara membuat:
1. Tumbuk atau blender kasar semua bahan.
2. Tumis hingga harum, tambahkan garam.
Konon, lebih enak kalo numisnya pake minyak jelantah bekas goreng ikan asin :p
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Ternyata... Sehat Itu Nikmat
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Setelah pekan kemarin demam, sedikit flu dan sedikit batuk, alhamdulillah sekarang sudah sehat lagi.
Biasanya klo mau flu, cuma bersin-bersin aja, trus jadi deh flu nya. Nah, kemarin itu, entah kenapa pake acara demam segala. Sempet dikompres air dingin, masih agak demam juga. Akhirnya ke Polyclinic di Clementi.
"You're lung is ok, no problem. It's just normal cold and cough", gitu kata dokternya.
Dari berita yang aku denger, tanda-tanda flu burung diantaranya badan demam tinggi dan gejala radang paru-paru. Makanya ga heran klo Pak Dokter langsung periksa paru-paru begitu denger keluhan demamku.
Buat temen-temen yang lain, jaga kesehatan ya... Ternyata sehat itu nikmat *biasanya baru terasa pas lagi sakit*.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Setelah pekan kemarin demam, sedikit flu dan sedikit batuk, alhamdulillah sekarang sudah sehat lagi.
Biasanya klo mau flu, cuma bersin-bersin aja, trus jadi deh flu nya. Nah, kemarin itu, entah kenapa pake acara demam segala. Sempet dikompres air dingin, masih agak demam juga. Akhirnya ke Polyclinic di Clementi.
"You're lung is ok, no problem. It's just normal cold and cough", gitu kata dokternya.
Dari berita yang aku denger, tanda-tanda flu burung diantaranya badan demam tinggi dan gejala radang paru-paru. Makanya ga heran klo Pak Dokter langsung periksa paru-paru begitu denger keluhan demamku.
Buat temen-temen yang lain, jaga kesehatan ya... Ternyata sehat itu nikmat *biasanya baru terasa pas lagi sakit*.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Monday, January 09, 2006
Rendang
Assalamu'alaikum Wr.Wb.Bahan:
500 gr daging sapi
1 lt santan *atau santan dari 1 butir kelapa*
Bumbu:
100 gr cabe merah *ini sudah cukup pedas, bisa ditambah atau dikurangi sesuai selera*
6 siung bawang merah
4 siung bawang putih
1cm kunyit
3-5 cm lengkuas
2 cm jahe
sedikit pala
1 lembar daun sereh
2 lembar daun salam
1 lembar daun jeruk
sedikit daun kunyit
garam
Cara membuat:
1. Haluskan semua bumbu kecuali daun-daunan.
2. Panaskan santan dan semua bumbu, masak hingga mendidih.
3. Masukkan daging. Masak hingga daging empuk dan santan menyusut. Aduk sesekali begitu santan menyusut. Kalau dagingnya masih kurang empuk bisa ditambahkan santan lagi.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Idul Adha
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Besok Hari Raya Idul Adha. Pertama kali aku alami di negara orang. Sepi... Tak terdengar suara takbir yang saling bersahutan. Sama sepinya seperti hari biasa, tak ada adzan berkumandang...
Akhirnya aku dan mas Tham nyari-nyari CD takbiran yang dulu kami bawa dari Glodok.
"Allohu Akbar... Allohu Akbar... Allohu Akbar...
Laa ilaha illallohu wa Allohu Akbar...
Allohu Akbar wa lillahilham"
Hiks, jadi inget suasana Idul Adha di Bekasi atau Bandung...
Rencananya sih besok kita open house. Nerima tamu yang datang berkunjung *emang ada ya? Hehehe* Tapiiii... berhubung rendangnya udah diserbu mas Tham waktu buka puasa tadi, mungkin besok kita open door aja :D
Pengen juga ngelihat penyembelihan hewan kurban disini. Kata mas Tham, hewan kurban cuma diambil dagingnya, benar-benar dagingnya sajah! Sisanya, dari mulai kepala, jeroan, kaki-kaki dan kulitnya dibuang. Yup, benar-benar dibuang... Sayang kan... Kalao di Indo, bagian-bagian tadi udah jadi rebutan.
Selamat Hari Raya Idul Adha buat semua saudara-saudari yang merayakan :) Semoga kita tetap bisa merasakan semangat dan nilai Idul Adha dimanapun dan bagaimanapun kondisi sekeliling kita...
Hidangan ini yang menemani kami saat Idul Adha, lontong sayur plus rendang :p

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Besok Hari Raya Idul Adha. Pertama kali aku alami di negara orang. Sepi... Tak terdengar suara takbir yang saling bersahutan. Sama sepinya seperti hari biasa, tak ada adzan berkumandang...
Akhirnya aku dan mas Tham nyari-nyari CD takbiran yang dulu kami bawa dari Glodok.
"Allohu Akbar... Allohu Akbar... Allohu Akbar...
Laa ilaha illallohu wa Allohu Akbar...
Allohu Akbar wa lillahilham"
Hiks, jadi inget suasana Idul Adha di Bekasi atau Bandung...
Rencananya sih besok kita open house. Nerima tamu yang datang berkunjung *emang ada ya? Hehehe* Tapiiii... berhubung rendangnya udah diserbu mas Tham waktu buka puasa tadi, mungkin besok kita open door aja :D
Pengen juga ngelihat penyembelihan hewan kurban disini. Kata mas Tham, hewan kurban cuma diambil dagingnya, benar-benar dagingnya sajah! Sisanya, dari mulai kepala, jeroan, kaki-kaki dan kulitnya dibuang. Yup, benar-benar dibuang... Sayang kan... Kalao di Indo, bagian-bagian tadi udah jadi rebutan.
Selamat Hari Raya Idul Adha buat semua saudara-saudari yang merayakan :) Semoga kita tetap bisa merasakan semangat dan nilai Idul Adha dimanapun dan bagaimanapun kondisi sekeliling kita...
Hidangan ini yang menemani kami saat Idul Adha, lontong sayur plus rendang :p
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Sunday, January 08, 2006
Bukan KFC... tapi IFC
IFC *Irma Fried Chicken* :D
Bahan:
15 potong drumlet *atau bagian lain yang ada dagingnya*.
90 gram tepung ayam goreng siap saji.
2 butir telur, kocok lepas.
Bumbu:
4 siung bawang putih, haluskan.
serbuk pala
serbuk merica
garam
Cara membuat:
1. Panaskan air dan semua bumbu. Masukkan ayam. Masak hingga daging ayam empuk. Angkat.
2. Celupkan ayam dalam telur. Baluri dengan tepung.
3. Goreng hingga kecoklatan.
4. Sajikan hangat.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Terong Balado
Assalamu'alaikum r.Wb.Enak dan gampang mbuatnya. Siapa aja bisa deh...
Bahan:
Terong ungu, belah memanjang dan potong-potong.
Bumbu halus:
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
2 buah cabe merah *atau sesuai selera*
1/2 buat tomat
garam
gula
Cara membuat:
1. Panaskan sedikit minyak, goreng terong 1/2 matang. Sisihkan.
2. Tumis bumbu halus hingga harum. Tambahkan gula dan garam hingga rasanya pas.
3. Masukkan terong, aduk hingga bumbu rata dan terong matang.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Bakwan Sayur

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Nyoba bakwan sayurnya teh Inong. Hmm beneran ennak dan lebih tahan lama *karena sayurannya ditumis dulu*. Makannya sambil gigit cabe rawit, dijamin tambah sedap :p
Bahan:
Wortel, iris tipis
Tauge
Daun bawang
200 gr terigu
1 butir telur
1 sdt baking powder *untuk efek renyah*
air
Bumbu:
2 siung bawang putih, haluskan
3 siung bawang merah, haluskan
garam
merica
gula
Cara membuat:
1. Tumis bumbu halus hingga harum. Masukkan tauge, wortel dan daun bawang, masak hingga sayuran matang.
2. Tambahkan garam, merica dan gula. Sisihkan.
3. Campur terigu, baking powder dan telur. Aduk rata dan beri air hingga adonan pas *tidak terlalu cair atau kental*.
4. Masukkan tuisan sayur, aduk rata.
5. Goreng satu persatu dengan sendok sayur hingga matang dan kecoklatan.
Sumber: Dapur Bunda Inong
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Subscribe to:
Posts (Atom)