Friday, June 30, 2006

Kalah Pamor Ama Piala Dunia

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Ini sebagian percakapan ku dengan mas Tham semalam,

Mas Tham, "Besok hari apa ya?"
"Jum'at"
"Tgl berapa?"
"30 Juni. Emang kenapa mas?"
Sambil aku senyum-senyum sendiri & mbatin dalam hati "horeee mas Tham inget nih..."

"Aku mau nonton bola ya... Begadang gpp kan. Besoknya sabtu kok", mas Tham njawab dengan wajah sumringahnya.

*gubrak* ternyata yang di inget jadwal pertandingan piala dunia.

"Selain pertandingan bola, emang besok ada apa lagi mas?", aku coba mancing2 dikit hehehe...

Kelihatan mas Tham berusaha mikir2 sambil mengingat2 sesuatu. Setelah beberapa saat...

"Oiya, besok kan ulang tahun mu ya. Hehehe... sorry...", sambil nyengir.
.....

Ah... piala dunia memang pamornya luar biasa.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Amazing Race

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Setelah balik ke Indo awal Februari lalu, sempet bolak-balik Indo- Malaysia, pertengahan Juni ini aku pindah (lagi) ke Singapore. Ga mudah memang, berpindah-pindah tempat apalagi dalam waktu dekat. Sadar atau ngga, mau atau ngga, pasti butuh penyesuaian.

Jadi inget acara Amazing Race yg dulu biasa nongol di Channel 5. Di permulaan race ada 10 grup dan setiap grup biasanya terdiri dari 2 orang. Mereka diberikan petunjuk harus kemana, melakukan apa dan harus mendapatkan apa disetiap tempat. Grup yang berhasil melakukan game atau tantangan dengan baik dan mendapatkan apa yang diminta, dengan waktu cepat, posisinya akan aman. Sementara grup dengan waktu terlama akan di eliminasi. Yang menarik, informasi tentang tujuan dan segala tantangannya baru akan diberikan sesaat sebelum dimulainya suatu perjalanan.

Di setiap tempat pasti ada keunikannya sendiri, ada plus, begitu juga minusnya. Ga ada gunanya klo cuma membanding-bandingkan enak ngga nya satu tempat dengan tempat lainnya. Semoga keberadaan ku (di mana pun) bisa menghasilkan sesuatu yg bermanfaat, untuk ku... untuk kita...

Well... here i come friends...

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

*SekarangLebihKePinggiranBarat*

Monday, May 29, 2006

Yogya

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Drrt... handphone ku bergetar, sms dari mas Tham.
"tolong telponin mas amir, tanyain kabarnya dia dan keluarga"
1:28pm 27-may-06

Ga berapa lama kemudian, drrrt...
"tolong telponin mas amir, tanyain kabarnya dia dan keluarga"

"ada apa mas?"
"di yogya ada gempa besar."

Ya Alloh... langsung terbayang keluarga kakak ipar ku, mas amir, mbak ana, plus tiga keponakan yang masih kecil-kecil, Nisa, Diya dan Akil.

Sejak sabtu pagi, aku memang sedang keluar rumah, mengikuti pelatihan. Akibatnya tidak tahu sama sekali berita gempa di Yogya, sampai ada sms dari mas Tham.

Aku tekan no hp mas Amir
"the number you are calling can not be reached please try again later"

Coba lagi beberapa kali, tapi hanya jawaban di atas yang terdengar.
Ya Alloh, mudah-mudahan mereka selamat dan baik-baik saja...

"aku masih belum bisa hub mas amir. nanti klo ada kabarnya aku sms mas lagi"
"ok. makasih"

Aku hubungi mbak ipar ku di Jakarta, ternyata dari tadi dia juga nyoba telpon ke nomor rumah mas amir, tapi belum berhasil.
Ya Alloh, mudah-mudahan mereka selamat dan baik-baik saja...

"Ma, di Yogya ada gempa besar. Minta tolong bantuin telpon mas amir", suara ku agak lirih menelpon mama di rumah Bekasi.

Cemas, khawatir, bingung, sedih... campur jadi satu. Aku pun hanya bisa diam termangu di dalam ruang pelatihan, sambil menggenggam erat handphone, menanti kabar tentang sanak keluarga di Yogya. Seolah tak mendengar pemateri yang sedang memberikan pelatihan dengan semangat.

Drrrt... ada telpon dari mbak ipar ku...
"Assalamu'alaikum mbak. Udah ada kabarnya?"
"Alhamdulillah mas amir sekeluarga selamat dan baik-baik aja. Rumahnya juga ga parah, padahal rumah-rumah sekitarnya rusak berat. Tapi tokonya rusak."
"Alhamdulillah... makasih ya mbak."

Segera ku kirim sms, mengabari mas Tham. Alhamdulillah...

Sabtu yang menegangkan buatku.
Begitu sampai rumah malam harinya, baru melihat berita. Gempa dengan kekuatan 5,9 SR meluluhlantahkan kota Yogya dan sekitarnya. Saat itu korbannya sudah mencapai sekitar 2900 orang dan kemungkinan bertambah karena masih ada korban yang terjebak di reruntuhan bangunan. Hari ini, bahkan sudah 3500 korban jiwa...

Masih penasaran, aku coba telpon mas amir. Agak susah... Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya berhasil juga. Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Mbak Ana dan para krucil sudah di ungsikan ke tempat yang lebih aman.

Ya Alloh, belum hilang ingatan kami akan tsunami di Aceh. Kini Kau sapa kami dengan gempa di Yogya. Rumah yang runtuh, bangunan bertingkat yang ambruk, semakin mengingatkan, betapa kecilnya manusia... Tapi tidak sedikit dari kami yang berpolah sok besar...

Astaghfirulloh... Ampuni kami YA Alloh...

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Saturday, April 15, 2006

Spaghetti Saus Ayam Lada Hitam

Assalamu'alaikum Wr.Wb.


Setelah sekian lama, posting lagi tentang makanan. Sejak pindah ke Bekasi jadi males masak :) Ini resep ngarang-ngarang sendiri. Alhamdulillah mas Tham suka. Nyoba bikin di rumah Bekasi, pada seneng juga...

Mie:
250 gr spaghetti atau angel hair, rebus dalam air yang cukup banyak.
Setelah matang, tiriskan dan teteskan sedikit minyak biar mie nya ga lengket.

Ayam:
3 potong daging ayam
sedikit jahe, keprek
1 sdt merica bubuk
2 siung bawang putih, keprek
sedikit garam

Cara masak ayamnya:
1. Rebus ayam dengan semua bumbu. Masak hingga daging ayam empuk.
2. Tiriskan daging ayam, suwir-suwir.
3. Saring sisa air rebusan ayam (air kaldunya), sisihkan.

Bahan saus:
sedikit mentega untuk menumis
1 siung bawang bombay, iris agak kasar
3 siung bawang putih, iris halus
5 sendok makan saus lada hitam
1 sdm tepung maizena, larutkan dengan sedikit air
garam atau bisa juga masako rasa ayam

Cara membuat saus:
1. Lelehkan mentega, masukkan bawang putih dan bawang bombay. Tumis hingga harum dan layu.
2. Masukkan suwiran ayam, aduk rata.
3. Masukkan saus lada hitam, air kaldu dan maizena, aduk rata.
4. Tambahkan garam atau masako secukupnya. Tambahinnya sedikit-sedikit aja ya... kan udah ada rasa asin dari mentega dan air kaldunya.
5. Aduk hingga kekentalannya pas.

Penyajian:
Susun sphagetti dalam piring, siram dengan sausnya. Klo mau ditambah saus sambal dan keju parut ga apa-apa. Kaya'nya ditambah jamur kancing juga sedap deh, slrup :p

Maaf ya, itu fotonya copy paste dari google, digcam nya lagi ga ada.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

RUU APP?

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi, RUU APP. Banyak sekali komentar tentang yang satu ini. Pihak yang pro mengatakan bahwa RUU ini melindungi bahkan mengangkat harkat dan derajat wanita. Sedangkan yang kontra tak mau kalah juga, bahwa RUU ini mengekang wanita, kenapa harus selalu wanita yg disalahkan dan harus dikekang?.

Aku? Aku sendiri belum tahu harus pro atau kontra. Karena sampai detik ini aku belum pernah baca draft RUU APP. Coba search di Google kebanyakan kok isinya tentang komentar masyarakat, dari yang jelata sampai pejabat, menanggapi RUU ini. Lantas materi dan isi RUU APP nya sendiri mana? Ada dimana? Rasanya lucu sekali kalo memperdebatkan, bahkan sampai ngotot, mempertahankan sesuatu yang kita sendiri belum memiliki pengetahuan akan hal tersebut.

Teman-teman, ada yang bisa bantu aku ga.... Dimana bisa mendapatkan materi RUU APP ini secara online?

Terimakasih sebelumnya.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Thursday, April 13, 2006

Dalam Rangka Kangen

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Beberapa waktu lalu main ke pameran buku di Senayan. Ketemu seorang teman, adik kelas di Lab. Gambar Teknik, menggandeng seorang akhwat. Subhanalloh... ternyata ia sudah menikah. Senangnya melihat wajah sumringah manten anyar, baarokallohu... :)

Masih di pameran buku, saat sedang antri wudhu, bertemu lagi dengan adik kelas waktu kuliah. Kami hanya sempat ngobrol sebentar karena ia sudah ditunggu suami dan anaknya yang masih berumur 6 bulan.

Usai sholat, aku sempatkan bertemu dengan keluarga kecil itu. Aih... anaknya lutjuuuuu banget.
***

Beberapa hari lalu, main ke rumah teman. Pasangan pasutri ini, dua-duanya teman dari zaman SMP dulu. Sayang putri kecilnya sudah tidur karena habis minum obat. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa-ketiwi...
***

Ah... Aku iri padamu... pada kalian... Yup, iri akan kebersamaan dalam keluarga kecil.

Kata orang, iri tanda tak mampu...? Belakangan ini, aku dan mas Tham tinggal berjauhan. Baru beberapa bulan, tapi rasanya lamaaaaaa banget, kaya' udah tahunan aja. Maklumlah, biasanya kan 7 hari dalam seminggu, 24 jam sehari, kita selalu barengan, minimal always keep in touch.

Sms-an? Ah, hanya dalam mimpi. Aku udah nyoba pakai nomor dari 3 operator GSM yang ada di Indo, tapi tak satu pun yang bisa. Telpon ke call centernya, ternyata memang belum ada kerjasama dengan pihak sana.

Telpon-telponan? Wow mahalll. Pernah mas Tham nelpon aku ke rumah Bekasi. Begitu tagihannya keluar, 1 menit biayanya sekitar 100 ribu rupiah.

Satu-satunya cara hanya melalui internet, chatting atau email. Itu pun ga bisa terlalu sering. Karena disana akses internet juga agak susah, ga bisa online setiap hari, plus perbedaan waktu yang hampir 6 jam.

Kangen? Sudah pasti! Tapi untuk sekarang, mungkin ini yang terbaik buat kita.

Ya Alloh, Yang Maha Memelihara, Maha Menjaga
Ku titipkan suami ku pada-Mu
Curahkan dengan nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat sehat dari-Mu
Ku titipkan juga rindu ku untuknya nun jauh disana

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Monday, April 10, 2006

Rosululloh Saw. (1) Watak & Kepribadian Beliau

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Dalam rangka maulid Nabi Muhammad Saw., tulisan berikut saya kutip dari sebuah buku "Mengenal Kesempurnaan Rasul Dari Segala Dimensi Kehidupan", penulis Syaikh Muhammad Jamil Zainu, penerbit Yayasan Al-Madinah, Surakarta.

Semoga bermanfaat... Semoga bisa membuat kita lebih mengenal Rosululloh Muhammad Saw., manusia agung sepanjang zaman.
**

Kelahiran Rasulullah Saw.
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah dan sebelum itu, mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata." (Q.S. Ali Imran:164)

Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang puasa pada hari senin?. Beliau menjawab: "Pada hati itulah aku dilahirkan, lalu diangkat menjadi Rasul dan diturunkan Al-Qur'an kepadaku." (H.R. Muslim)

Rasulullah Saw. dilahirkan pada hari senin bualn Rabi'ul Awal di Makkah Al-Mukarramah tahun Fiil (571M), berasal dari kedua orangtua yang sudah ma'ruf. Bapaknya bernama Abdullah bin Abdul Muthallib dan ibunya bernama Aminah binti Wahb. Kakek Beliau memberinya nama Muhammad. Bapak Belaiu meninggal dunia sebelum kelahirannya.
**

Nama dan nasab Rosululloh Saw.
"Muhammad adalah Rasulullah." (Q.S. Al-Fath:29)

"Saya memiliki lima nama: Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi yang Allah menghapus kekufuran denganku, saya Al-Hasyiryang manusia dikumpulkan diatas kedua kaki ku, dan saya Al-'Aqib yang tidak ada NAbi pun setelahnya." (Muttafaq 'Alaih)

"Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Ismail Kinanah, dan dari Kinanah Allah memilih Quraisy, dan dari Quraisy Allah memilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim Allah memilih saya." (H.R. Muslim)
**

Rasulullah Saw. seolah-olah kamu melihatnya
Dari Jabir bin Samrah r.a. berkata: "Saya pernah melihat Rasulullah pada malam bulan purnama. Saya memandang Beliau sambil memandang bulan. Beliau mengenakan pakaian merah. Maka menurut saya beliau lebih indah daripada bulan." (Dikeluarkan AtTirmidzi, dia berkata HAdits Hasan Gharib. Dan dishahihkan oleh Al-Hakim serta disetujui oleh Adz-Dzahabi)
**

Keutamaan-keutamaan Rasulullah
"Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pemberi kabar gembira dan peringatan. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa sesungguhnya bagi mereka karuinia yang besar dari Allah." (Q.S. Al-Ahzab:45-47)

"Tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (Al-Anbiyaa':40)

"Saya adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat, saya yang pertama kali dikeluarkan dari kubur, yang pertama kali memberi syafaat dan yang pertama kali diberi hak untuk memberi syafaat." (H.R. Muslim)
**

Bersambung...

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Thursday, March 23, 2006

Langit dan Bumi

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

"Yak, selamat siang bapak-ibu. Lebih baik kami terus terang meminta, daripada kami menodong atau mencuri, bla..bla..bla... sekedar untuk makan, bla..bla..bla..."

Intinya mereka minta duit. Katanya sih sekedar untuk makan. Tapi kalau melihat penampilan fisik... sepertinya mereka makan sesuatu yang tidak menyehatkan.

Agak kaget juga aku waktu 2 orang bertubuh cukup besar, dengan tato dilengan dan mata agak kemerahan naik kedalam angkot. Memang lagi macet *Bulak Kapal gitu lho*, jadi siapa saja bisa dengan leluasa naik turun angkot yang pintunya selalu terbuka.

Gadis disebelah saya langsung pindah ke kursi sebrang karena salah satu preman itu *mugkin itu sebutan yang cocok buat 2 orang laki-laki itu", ngoceh sambil memegang paha si gadis. Arghhh kurang ajar!

Tinggallah saya sendiri duduk di pojok *di sisi angkot yang biasanya muat untuk 4 penumpang*. Plus 4 orang di sisi lainnya.

"Maaf", ucap ku sambil mengangkat telapak tangan *isyarat tidak memberi*.
"Maaf! Ntar tunggu lebaran badak!"

Ya Alloh... agak kaget dan sedikit takut juga dibentak preman itu. Tapi aku tetap keukeuh sureukeuh ga mau ngasih uang dan kembali mengangkat telapak tangan.

Tidak berhasil nakut-nakutin aku, preman itu beralih ke penumpang lain. Semua tidak ada yang memberi kecuali seorang ibu di ujung sana yang nampak ketakutan.

"Lumayan, dapet serebu", mungkin begitu pikir mereka.

Alhamdulillah mereka pun turun.
***

Masih tetap macet, panas, tenggorokan jadi kering.

"Aqua gelasnya satu, Bang", sambil menyodorkan selembar ribuan.
"Kembaliannya ambil aja Bang".

"Ngga usah Neng", sambil si Abang tersenyum ramah dan sedikit memaksa saya untuk mengambil kembaliannya.

Ya Alloh... saya kembali kaget. Subhanalloh masih ada orang seperti ini. Padahal saya dengan suka rela dan senang hati berniat memberikan kembalian itu. Dan beliu pun bisa dengan mudah menerimanya. Tapi dengan santun si Abang menolaknya.

Merasa cukup dengan apa yang didapat dan tidak serakah terhadap harta dunia, sikap itu yang aku pelajari dari beliau. Subhanalloh... Bekerja dijalanan, dibawah terik matahari, dengan baju lusuh karena peluh, diantara kendaraan dan asap knalpot ternyata tidak lantas menjadikan hati seseorang berdebu dan beku.

***

Bagai jarak antara langit dan bumi... jauuuuuh... Begitu aku mengumpamakan sikap dua preman tadi dengan penjual minuman.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Sunday, March 12, 2006

Our First Anniversary

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Percakapan di telepon, Bandung-Bekasi
…..
“Kamu udah ada yang ngelamar belum?”
“Belum. Emang kenapa? Kok nanya gitu?”
“Kalo aku yang ngelamar gimana?”
Hening sejenak
“Aku minta waktu untuk ta’aruf”
…..

Kaget. Masih ga percaya kalau mas Tham yang nanya. Aku memang sudah mengenalnya, tapi sebatas teman.
sama-sama kuliah di STT Telkom Bandung *aku ambil Teknik Industri dan mas Tham jurusan Teknik Informatika*
sama-sama angkatan 1997
sama-sama ngajar TPA Masjid Syamsul Ulum
sama-sama aktif di Bidang Usaha SKI *aku di BKM, mas Tham di BMT*
waktu aku sakit campak dan akhirnya harus parktikum Sistem Informasi sendirian, mas Tham yang ngajarin aku tentang pemrograman.

Ya, karena itulah aku mengenal mas. Hampir semuanya karena urusan kuliah dan aktivitas kampus. Ternyata... dari temen bisa jadi demen :D
***

Sabtu, 12 maret 2005
“Saya terima nikahnya Irma Yunita binti Mochammad Isro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”

Janji yang diucapkan tepat setahun lalu, seolah masih terbayang di depan mata, masih terdengar jelas di telinga.



………..
Ya Allohu Robbi
Yang Maha membolak-balikkan hati ini
Tetapkanlah hati kami
Agar tetap saling mencintai

Bisa seiring sejalan bersama
Di kehidupan dunia
Berharap di akhirat kelak dapat berjumpa
Dalam taman indah bernama syurga
***
Petikan dari hadiah untuk suamiku tercinta :)

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Thursday, March 09, 2006

Another Story About TKW

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dua kali perjalanan ke negara tetangga, dua kali punya teman seperjalan TKW dan dua kali juga saya tidak tahu pasti bagaimana kabar mereka berdua. Yang pertama, Mbak Iki… *baca tulisan saya sebelum ini*. Dan yang kedua, sebut saja Mbak Iku….

Dua tahun kerja di kilang *maksudnya, pabrik*. Habis kontrak kerjanya, Mbak Iku pulang ke Indonesia, tepatnya ke Lampung Utara. Pertama kalinya pulang kampung, dan sendirian!

Masih ada lagi, di Jakarta nanti tak ada keluarga yang menjemput karena kepulangannya dimajukan beberapa hari dari jadwal semula. Padahal Mbak Iku masih belum tahu bagaimana melanjutkan perjalannya ke Lampung Utara.

Ya Alloh… Saya mbayangin gimana kalau saya yang ada di posisi Mbak Iku…

Saya pun menemaninya di Bandara dan ternyata kita duduk bersebelahan dalam pesawat. Sambil menunggu, sempat ngobrol-ngobrol juga dengan penumpang lainnya. Ada 2 orang bapak, yang satu pulang ke Cianjur dan yang lainnya ke Serang.

“Kalau gitu pulangnya bareng saya saja. Biar saya antar sampai Merak. Dari sana baru saya ke Serang, paling-paling Cuma 1 jam-an”, kata si Bapak.

Alhamdulillah… sedikit tenang, karena Mbak Iku tidak benar-benar sendirian. Dan saya perhatikan kedua bapak itu juga nampaknya orang baik.

Saya dan 2 bapak tadi berencana meloloskan Mbak Iku keluar dari Bandara Soekarno Hatta melalui pintu penumpang umum! Bismillah…. Mudah-mudahan berhasil…

Lokasi: di Bandara Internasional Soekarno-hatta.
Cek imigrasi ok, cek bagasi ok. Satu koper buesar Mbak Iku dibawa oleh si Bapak, dan tas besar lainnya dibawakan Bapak yang lain. Mbak Iku hanya membawa tas tangan dan persis ada disebelah saya *ceritanya lagi menyamarkan*.

Hanya beberapa meter dari pintu keluar
“Coba lihat passportnya”.
Seseorang tidak berseragam, mengenakan kartu pengenal yang separuhnya tertutup jaket, menghentikan kita.
“Kamu, boleh keluar”, ditujukan ke saya.
“Kamu, ikut saya”, jari telunjuknya mengarah ke Mbak Iku.

Ya Alloh….

Singkat cerita, koper buesar sudah dibawa Mbak Iku, tapi tas besarnya ada di saya yang menunggu di luar.

“Wah, saya harus nunggu sampai jam berapa nih?”
“Memang kenapa Mbak?”

Sebut saja namanya Pak Eko, tadi sempat bertemu waktu check-in, rupanya beliau masih menunggu jemputan. Saya ceritakan semuanya….

Pak Eko masuk lagi kedalam bandara menanyakan keberadaan Mbak Iku. Ternyata Mbak Iku sudah digiring ke jalur khusus TKI dan mungkin sekarang sudah ada di terminal 3.

Wah, paniklah saya. Terminal 3? Dimana tuh? Tasnya Mbak Iku bagaimana? Saya pun tak tahu nomor HP nya. Beruntung, jemputan Pak Eko sudah datang. Beliau berbaik hati mau mengantarkan saya ke terminal 3.

Ternyata letaknya terpisah jauh dari terminal 1 dan 2. Dari Bandara, para TKI diangkut lagi dengan bus menuju tempat ini. Setelah menjelaskan maksud kedatangan di pos penjaga, sesorang mengantarkan kami. Hanya satu orang saja yang boleh masuk. Karena masih menginngat wajah Mbak Iku, jadilah saya yang masuk kedalam satu ruang besar seperti hall *atau lantai 1 nya GSG di ST3*. Ada ratusan TKW ada disana, dipisahkan berdasarkan tujuan mereka. Ada yang ke Surabaya dan berbagai daerah lainnya.

Sambil mencari-cari Mbak Iku, saya pun ngobrol dengan orang yang menemani itu.
“Pak, kenapa TKW pulangnya harus melalui terminal 3?”
“Karena dulu waktu mereka berangkat kan melalui Depnaker, jadi pulangnya juga begitu dong.”
“Kalau ada keluarga yang menjemput di Bandara gimana?”
“Yaa… ngga boleh. Ngga boleh dijemput keluarga. Tetap harus melalui terminal 3.”
“Oooo… *?*”
‘Trus, nanti mereka dipulangkan dengan travel? Yang udah nunggu didepan itu ya?”
“Bukan travel, tapi angkutan khusus.”

Mulut saya mengoceh, mata masih terus kelilingan mencari mbak Iku.

“Setiap hari selalu ramai seperti ini Pak?”
“Wah, bahkan bisa sampai ribuan Mbak?”
“Hah?? Kasihan dong mereka kalau tempatnya terlalu penuh.”
“Ya ngga juga. Secara berkala ada yang dipulangkan dengan angkutan khusus.”

Alhamdulillah…. Saya pun bertemu dengan Mbak Iku. Kami saling berpelukan, seperti layaknya teman lama. Sedikit tenang karena ada beberapa orang TKW yang juga pulang ke Lampung. Setelah bertukar alamat dan nomor telepon, kami pun berpisah lagi, dan berjanji untuk saling memberikan kabar begitu sampai rumah.

Hati-hati Mbak. Semoga selamat dalam perjalanan dan sampai tujuan…
Lagi-lagi Pak Eko berbaik hati mengantarkan saya kembali ke terminal 2 karena harus naik bus Damri.

2 hari setelah itu, saya coba telepon Mbak Iku, sampai beberapa kali, tapi yang terdengar selalu nada sibuk. Ah… semoga kau baik-baik saja Mbak…

Pucuk dicinta ulam tiba, Mbak Iku akhirnya menelpon saya keesokan harinya. Sayang, saat itu saya tak di rumah. Ada salam darinya. Ah… Alhamdulillah kau baik-baik saja.
**

Yang pertama,
Terima kasih untuk 2 orang bapak yang sudah berniat mengantarkan Mbak Iku sampai ke Merak. Terima kasih juga untu Pak Eko yang sudah berbaik hati mengantarkan saya ke terminal 3 dan balik lagi ke terminal 2, walaupun harus berputar-putar cukup jauh. Senang rasanya masih ada yang peduli dengan sesama, dengan para TKI.

Yang kedua,
Kenapa kami berniat meloloskan Mbak Iku melalui pintu keluar penumpang umum? Karena sudah ada yang bersedia mengantarkan sampai Pelabuhan Merak. Supaya bisa lebih cepat sampai dirumah, tidak tertahan dulu di terminal 3. Supaya tidak perlu membayar biaya administrasi di terminal 3 *kabarnya begitu*. Saya belum tahu, apakah ada peraturan tertulis, bahwa setiap TKW yang tiba di Bandara Cengkareng HARUS melalui terminal 3?

Yang ketiga,
Kenapa pintu keluar penumpang umum dan TKI harus dipisahkan? Kita sama-sama bayar tiket, bayar pajak bandara juga. Tapi kenapa TKI diperlakukan berbeda? Seolah-olah mereka dari kelas yang berbeda…

Yang keempat,
Apakah keberadaan terminal 3 cukup aman, efektif dan efisien?
Lebih baik mana jika dibandingkan TKI pulang dengan usaha mereka sendiri?
Pernahkan Depnaker melakukan survey tentang hal ini?

Yang kelima,
Mbak Iku pernah cerita, ada kawannya yang diminta tambahan ongkos ditengah perjalanan. Padahal sebeleumnya, besarnya ongkos sudah disepakati bersama. Pernah dengar juga berita tentang TKI yang dirampok ditengah jalan, bahkan sampai di bunuh. Tanggung jawab siapa kah semua ini?

Yang keenam,
Mimpi saya, tak ada lagi pintu keluar atau jalur khusus TKI. Mereka dan penumpang lainnya keluar dari pintu yang sama. Begitu diluar sudah dinanti sanak keluarga yang menjemput, atau bisa langsung ke bus Damri ke berbagai tujuan. Bukan di kerubungi calo-calo mobil yang langsung tarik tas orang, bahkan langsung ngeloyor membawa tas orang. Semoga…
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Ada Apa Dengan Doneeh?

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Tiba-tiba saja shout box saya ga berfungsi. Tampilannya seperti ini nih…




Akhirnya cari shout box lain. Taraaaaa…. Jadilah shout box seperti disamping kanan. Cantik kan? Hehehe… muji sendiri. Dapat dari Oggix.

Mangga atuh, teteh-teteh, mbak-mbak, mas-mas, temen-temen sadayana, silahkan meninggalkan jejak pada kunjungan anda J

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Mbak Iki

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Sebut saja namanya Mbak Iki (bukan nama sebenarnya). Gadis hitam manis mengenakan tank top, berjalan *kelihatannya* penuh percaya diri sambil mendorong trolinya.

Mbak Iki dan saya sama-sama sedang mengantri untuk check-in. Sempat ngobrol sebentar, ternyata ini kali pertamanya pergi sendirian, biasanya selalu bareng teman. Check-in, bagasi, selanjutnya urusan fiskal.

“Mbak Iki bayar fiskal ngga?”
“Tak lah. Saye kan dah kerje di sane.”
“Kalau gitu, harus isi form permohonan bebas fiskal.”

Surat bebas fiskal saya sudah keluar. Mbak Iki mengurus formnya sendiri.

“Tak boleh. Mesti bayar lah”, sambil ngeloyor pergi ke loket pembayaran.

Saya masih terheran-heran.

“Kok bayar Mbak Iki? Kan udah kerja disana. Ada ID card sana ngga?”
“Tak ade.”
“Ooo……”, sambil mikir karena masih bingung. “Mbak, kalau udah kerja disana harusnya punya ID card. Nah setelah itu bisa urus bebas fiskal di KBRI sana”, saya menjelaskan dengan semangat.
“Iye ke?”

Kita ngobrol-ngobrol lagi sambil jalan ke pemeriksaan imigrasi. Antri di belakang mbak Iki, kenapa lama sekali? Akhirnya saya pun pindah ke antrian sebelah. Selesai lah urusan imigrasi.

Mbak Iki di hand over ke petugas yang lain. Samar-samar saya dengar
“Tolong lah Pak”, suara mbak Iki memelas.

Saya coba agak mendekat

“Macam mane ni Pak?”
“Tidak bisa. Harus ganti passport dulu. Dulu buatnya dimana?”
“Di Jawa.”
“Berarti gantinya disana juga.”

Kemudian mbak Iki diminta menemui petugas yang lain.

Ya Alloh, ternyata…
Mbak Iki memang seorang TKW… tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Kepergiannya kali ini dalam rangka berlibur, menemui kawannya yang masih disana, menggunakan passport TKI.

Sampai disini saya ngga tahu lagi bagaimana nasib Mbak Iki. Juga nasib tiket return-nya seharga 178 USD, nasib kopernya yang sudah masuk bagasi, nasib pajak bandara yang 100 ribu rupiah, juga nasib pembayaran fiskalnya sebesar 1 juta rupiah.

Harusnya Mbak Iki satu pesawat dengan saya. Tapi saya tidak melihatnya didalam pesawat, bahkan sampai akhirnya sampai ditujuan….

Ah…. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana kesudahan kejadian ini.
**

Yang pertama,
Malu bertanya sesat dijalan. Pepatah ini memang benar adanya. Kalau memang belum tahu, tidak ada salahnya bertanya, mencari informasi yang jelas. Terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan prosedur dan uang!

Yang kedua,
Ada passport biasa. Ada passport TKI. Ada passport haji. Tapi kenapa tidak ada passport pekerja kantoran? Tidak ada passport pelajar? Tidak ada passport plesiran? Bingung karena kebanyakan?

Ok, kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit? Cukup satu passport, PASSPORT INDONESIA. Masalah peruntukannya, terserah kepada setiap orang. Selama tidak melanggarhukum di Indonesia dan negara lain yang dituju, ngga masalah kan?!

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Note: Semoga engkau baik-baik saja Mbak

Saturday, March 04, 2006

Arghhhh....

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Membawa koper buesar, pakai jilbab, muka yg 100% Indonesia plus menggunakan penerbangan dari Arab. Kita-kira apa yang ada dalam pikiran Anda? Hmm mungkin jawabannya beragam. Tapi kalau saya nanya nya ke petugas yang ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kemungkinan besar jawabannya hanya satu TKW!

Percakapan (?)

“Lewat sini mbak!” seorang petugas berseragam mengarahkan saya ke tempat yang bertuliskan “JALUR KHUSUS TKI”.
"Saya bukan TKI Pak!” sambil berbelok ke arah pintu keluar untuk penumpang umum.

Rupanya petugas tadi masih belum puas dan mendekati saya lagi.

“Pelajar ya mbak?” tanya nya lagi. Mungkin karena melihat saya yang jelas-jelas sedang menenteng tas laptop.
“Iya Pak”, jawab saya sekenanya.
“Coba lihat passportnya.”
“Saya bukan TKW Pak.”
“Iya, coba lihat passportnya!”, suaranya mulai agak tinggi.
“Saya bukan TKW Pak! Saya tinggal di Singapura. Saya permanent Resident di Singapura”, dengan suara yang sama tingginya dengan petugas. Ga tau deh dia ngerti maksudnya atau nggak.
“Iya, lihat passportnya. Soalnya banyak TKW yang bilangnya begitu. Ada masalah diluar negeri, larinya ke Indonesia!”
“Ya terserah, yang jelas bukan saya. Saya bukan TKW!

Capek adu suara, akhirnya saya keluarkan juga passport saya. Si petugas membolak-balik halaman demi halaman, sepertinya sedang berusaha keras mencari bukti kalau saya benar TKW.

“Ya udah”, sambil terus ngeloyor pergi meninggalkan saya yang terbengong-bengong keheranan.

Udah? Begitu aja? Tanpa permintaan maaf karena sudah menuduh orang sembarangan dan memperlakukan orang dengan tidak sopan!

Arghhhh…. Dzig 100x…. Rasanya pengen banget mukulin bolak-balik si petugas sampai jatuh terkapar. Begitu dia siuman, langsung sadar kalau perbuatannya salah *brutal.com*.
**

Yang pertama,
sebenarnya saya sih ga masalah disangka TKW, disangka buruh pabrik, disangka pembantu atau apalah.Tapi yang nyebelin kalau prasangka itu mempengaruhi perlakuan mereka terhadap kita. Padahal di sisi kanan imigrasi check point tertulis besar-besar “SELAMAT DATANG PAHLAWAN DEVISA”. Masa’ sih begini cara memperlakukan pahlawanmu?

Yang kedua,
saya sudah lolos di pengecekan bagasi dan imigrasi. Untuk urusan apalagi petugas itu memeriksa passport saya? Hanya beberapa meter menuju pintu keluar. Selain itu, passport itu punya saya kan, kalau mau meminjam atau sekedar melihat milik orang lain, mbok ya minta izin nya yang sopan.

Yang ketiga,
waktu itu, saya mamakai kaos oblong plus rok. Gaya favorit saya kalau sedang diperjalanan, biar lebih nyaman dan simple. Mungkin juga gaya yang sama dengan para TKW. Lain kali, mungkin saya coba berpakaian sedikit lebih rapi dan kita lihat bagaimana hasilnya? *Arghhh… sebenernya lebih tepat kalau petugas itu yang merubah sikapnya, bukan saya yang harus sedikit merubah penampilan*

Yang keempat,
kalau ada petugas yang mengarahkan ke jalur khusu TKI, ga perlu emosi. Adu suara cuma buang tenaga dan bikin BT. Cukup dijawab:
“Saya bukan TKI Pak.
Bapak mau periksa passport saya?
Silahkan…”

Yang kelima,
saya kok masih mangkel dengan kata-kata petugas tadi
“Soalnya banyak TKW yang bilangnyabegitu *maksudnya, ga ngaku kalau jadi TKW*. Ada maslah diluar negeri, larinya ke Indonesia.”
Aneh bin ajaib…
TKI atau TKW masih berstatus WNI, Warga Negara Indonesia. Jadi sangat wajar kalau mereka pulang atau lari *menurut saya lebih tepatnya berlindung* ke kampung sendiri. Masa’ mau kabur ke kampung orang lain? Yang ini sih biasanya kelakuannya koruptor.
Kalau tidak salah, gaji para TKW juga dipotong pajak *makanya disebut pahlawan devisa*. Jadi hal yang wajar juga jika pemerintah Indonesia memberikan fungsi pendampingan dan perlindungan kepada mereka, baik disaat senang atau terganjal masalah. Hubungan saling memberi dan menerima gitu loh…

Yang keenam,
Bandara INTERNASIONAL Soekarno-Hatta. Tapi kenapa pelayanannya tidak mencerminkan skala internasional-nya. Setidaknya kalau saya bandingkan dari Bandara internasional di tetangga sebelah. Jauuuh berbeda.

Yang terakhir,
Saya masih bingung, menyebut bapak tadi dengan oknum petugas atau cukup petugas berseragam sajah. Ah… mudah-mudahan hanya oknum.

Note:
Judul tulisan ini sebenarnya “Kalau TKW (look like) ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta”

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Monday, February 20, 2006

Bubur Ayam Kuah Soto

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Lagi-lagi ini masakan waktu masih di Singapur. Kalau sekarang sih, pengen sarapan bubur tinggal panggil abang yang lewat depan rumah setiap pagi :D Untuk buburnya, aku mbuat 1/2 resep bisa untuk 4 porsi.

Bahan bubur:
200 gr beras
2 liter air
2 lembar daun pandan
2 lembar daun salam
1 sdt garam

Kuah:
1 dada ayam atau fillet
1 batang daun bawang
2 batang daun seledri
1 liter air
1 batang sereh
3 lembar daun jeruk
2 cm jahe, keprek
3 sdm minyak goreng, untuk menumis

Haluskan:
8 siung bawang merah
5 siung bawang putih
3 cm kunyit, bakar
5 buah kemiri, sangrai
1 sdm garam
1 sdt merica

Pelengkap:
100 gr kacang kedelai, goreng
5 buah cakwe goreng, iris
irisan daun bawang, seledri, bawang goreng
kecap manis
kerupuk
sambal

Cara membuat:
Bubur
Masak beras bersama air, daun pandan, salam dan garam. Aduk sesekali. Masak hingga kental, angkat dan tiriskan.

Kuah
1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum.
2. Tambahkan air secukupnya dan masukkan ayam.
3. Masukkan sisa bahan kuah. Masak hingga ayam empuk. Matikan api.
4. Angkat ayam, suwir-suwir.
5. Sajikan bubur dengan semua bahan pelengkap dan suwiran ayam.

Sumber : Dapur Bunda

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Wednesday, February 15, 2006

The Inspiring Women

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Hidup jauh dari kampung halaman, makanan yang tak cucok dilidah, tetangga kanan-kiri yang tak saling kenal *hanya sebatas senyum dan say hi*. Awalnya memang agak membosankan. Alhamdulillah tak berlangsung lama…

Transportasi umum yang nyaman, bersih, serba teratur dan keadaan sekitar yang relatif aman. Semua itu menjadi lengkap setelah saya menemukan keluarga baru. Ya… teman-teman yang juga berasal dari Indo.

Ada Teteh yang punya blog begitu menggoda. Gimana enggak? Isinya makanan melulu, dari tiramisu sampai singkong goreng ada disitu, slrupp :p Teteh yang lain, tetep semangat ngoprek didapur sepulang kerja. Kalau buka warung makan Sunda kaya’nya ok deh Teh ;) Bahkan ada mamee yang udah punya bisnis cateringnya sendiri, kerenn..

Selain itu, ada mbak yang senengnya ngarang. Begitu mengalir dan enak dibaca. Tapi sayangnya, mbak ini ga mau menanggung efek samping setelah membaca karangannya :) Ternyata oh ternyata… ada juga lho mbak yang sudah jadi penulis cerpen professional, udah ada buku nya bo.

Menikah, punya anak dan kesibukan dirumah ternyata tidak lantas membuat orang malas cari ilmu. Banyak teman-teman yang tetep rajin wara-wiri ikut pengajian walaupun sudah ada 1 atau 2 anak, bahkan ada juga yang sudah ada 3, 4 dan 5 anak, subhanalloh….

Ada lagi mbak yang senang meng-koleksi flash card dan berbagai educatif games. Bermanfaat banget buat para krucil. Anak tenang, para ibu pun jadi tenang :)

Teman yang lain, hobi banget ngutak-ngatik blog setting. Perhatiin deh, adaaa aja yang berubah dari blognya, tentu saja selain postingannya. Biasanya, kesanalah aku tanya-tanya tentang per-blog-an. Waktu pindahan kemarin, teman ini juga bersedia menjadi tempat lungsuran pretilan rumah tangga.

Sebenarnya masih banyak lagi teman-teman yang lain dan tidak bisa aku ceritakan satu per satu. Yang jelas ada benang merah yang bisa aku tangkap, bahwa menjadi istri tidak sekedar menjaga rumah *plus segala tugas-tugas didalamnya* kemudian menunggu suami pulang kerja. Tidak, tidak sesempit itu.

Tetapi juga ada semangat didalamnya, semangat untuk terus belajar dan meng-upgrade diri sendiri bahkan keluarga kecilnya. Ya, semangat itulah yang akan terus aku bawa. Semangat untuk masuk dapur, semangat untuk belajar masak, semangat nge-blog… wah pokoknya banyak deh.

Terima kasih teman-teman and please keep the spirit.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

*tulisan ini dibuat waktu jetlag Singapur masih terasa*

Tuesday, February 14, 2006

Ayam Sobek


Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dengan sedikit modifikasi :) Enak dan praktis. “Besok masak ini lagi yah”, pesen mas Tham setelah makan ayam sobek ini.


Bahan:
6 buah dada ayam atau fillet
2 siung bawang putih, keprek
1cm jahe, keprek
serbuk lada
sedikit biji pala, keprek

Bumbu halus:
15 buah cabe merah
10 buah bawang merah
2 cm jahe
1 buah tomat sedang
garam
gula

Cara membuat:
1. Rebus ayam dengan dengan semua sisa bahan. Masak hingga daging ayam empuk, angkat dan tiriskan.
2. Sobek-sobek daging ayam, jangan terlalu tipis/kecil.
3. Tumis bumbu halus hingga harum dan matang. Jangan lupa beri garam dan gula.
4. Masukkan sobekan ayam, aduk rata.

Sumber: Dapur Keluarga Cemara

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Saturday, February 04, 2006

Terima Kasih

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Susah payah aku tahan, akhirnya butiran hangat itu luruh juga. Sepuluh bulan ternyata mampu membuat seorang yang asing menjadi seperti keluarga.

Terima kasih teman-teman, telah menjadikan sebuah pulau mungil menjadi berwarna dan bermakna bagi ku...

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

*Catatan dalam bus 189, dari Bukit Batok menuju Clementi*

Sunday, January 29, 2006

Nasi Aking

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Nasi aking??? Waktu pertama kali dengar aku sempet mengernyitkan dahi, "Apaan tuh?". Dari tayangan berita SCTV, ternyata nasi aking adalah nasi yang dihasilkan dari nasi sisa.

Proses pengolahannya, nasi sisa dijemur semalaman hingga kering. Begitu akan dimasak, nasi kering ini dicuci dan direndam kurang lebih selama 1 jam. Setelah itu siap dimasak seperti biasa. Kalau ada, bisa dicampur dengan kelapa. Kalau tak ada, dengan garam pun tak mengapa.

Sebenarnya nasi sisa ini biasa digunakan untuk pakan ternak bebek. Tapi, percayakah anda, ternyata ada orang yang makan nasi aking. Nasi yang sebenarnya hanya layak dikonsumsi ternak!

Didaerah Serang, Banten, ada 1 keluarga yang makan nasi aking setahun belakangan ini. Kenapa? Agar tidak kelaparan dan kemiskinan.

Sang bapak *rata-rata* berpenghasilan hanya 5 ribu rupiah per hari, tak jarang malah tak dapat hasil sama sekali. Dengan seorang istri dan 8 orang anak, butuh 2 liter beras setiap harinya. Jelas tak cukup untuk membeli beras yang harganya terus meroket *kira-kira Rp.4000 per liter*, bahkan untuk beras kualitas jelek sekalipun.

Nasi aking hanya seharga seribu rupiah per liter. Terkadang si ibu mengumpulkan langsung nasi-nasi sisa dari tetangga. Jika ada uang lebih, bisa untuk membeli tahu, tempe atau oncom untuk teman makan. Jika tak ada, cukup dengan garam.

Kadang mereka merasa mual-mual setelah makan nasi aking. Pemerintah setempat pun sudah melarang keluarga ini makan nasi aking. Tapi pelarangan tanpa bantuan nyata, apa gunanya?

Ah... jadi teringat berapa butir nasi yang pernah aku buang percuma. Karena makan yang tidak dihabiskan, masak berlebih sehingga basi dan masuk ke tempat sampah. Sebutir... dua butir... tiga butir... Ah... banyak ternyata!

Ya Alloh... Ampuni hamba-Mu yang kurang bersyukur ini. Membuang rejeki yang tlah Kau berikan. Padahal ada hamba-Mu yang lain, harus bersusah payah mencari rejeki agar tidak kelaparan, agar tetap bertahan hidup.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Pindang Ikan Bandeng

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Bikin bandeng berkuah. Biasanya kalau dibiarkan sampai besok *tentu saja harus dihangatkan* rasanya jadi lebih enak. Kuahnya tambah sedep dan meresap ke dalam ikan nya :P


Bahan:
2 ekor ikan bandeng, potong 2 atau 3 *sesuai selera*
2-4 buah cabe rawit
kecap manis
sedikit asam jawa

Bumbu:
2 buah cabe merah
3 siung bawang merah
sedikit kunyit
sedikit jahe
Semua bumbu dibakar hingga wangi, tumbuk kasar

Cara membuat:
1. Panaskan air secukupnya.
2. Masukkan bumbu dan asam jawa. Masak hingga mendidih.
3. Tambahkan kecap, aduk rata.
4. Masukkan ikan, masak hingga ikan matang *ikan dimasukkan setelah air mendidih supaya tidak hancur*.
5. Terakhir, masukkan cabe rawit. Kalau suka pedas, tinggal gerus saja cabe rawitnya.
6. Sajikan hangat.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Monday, January 23, 2006

Siloso Beach

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Hari sabtu lalu pergi ke Siloso Beach, kopdar pertama ku bareng ISM. Sueneng... biasanya cuma baca email-emailnya aja, akhirnya bisa ketemuan dengan banyak teman, ketemu banyak makanan, plus banyak anak-anak yang imut dan lucu-lucu.

Ini juga kali pertama aku ke pantai ini *padahal udah 10 bulan tinggal di Singapur*. Mas Tham cuma jawab "Ntar" kalau aku ajak. Pantainya sih biasa aja *dengan tebaran pasir putih impor dari Indonesia*, tapi bersihhhh banget. Ditambah dengan pemandangan gadis-gadis yang bersliweran hanya menggunakan bikini. Duh... jadi risih sendiri.

Sementara para ibu sibuk mengobrol dan mengunyah *hmmm yummy... banyak makanan enak*, ternyata ada yang sibuk sendiri. Beberapa bapak sibuk menemani anak-anak bermain *atau sebaliknya?:)*. Termasuk mas Tham :)


Sempet sedikit kalang kabut waktu gerimis datang. Menyelamatkan makanan ke dalam tenda dan mencari tempat berteduh. Untunglah ga berapa lama, langit cerah lagi. Yippi... langsung pada berhamburan. Sayang, aku lupa foto-foto waktu disana, hanya sempat beberapa. Mampir ke tempat mbak Hany aja untuk lihat foto-foto lainnya.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.